tasawuf

Bab II

Maqamat dan Ahwal

 

  1. A.    Maqamat

Seseorang sebelum menjadi sufi terlebih dahulu ia harus menempuh beberapa disiplin kerohanian dalam berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu yang disebut maqam (stasion). Maqamat adalah bentuk jama’ dari maqam yang mengandung arti tingkatan-tingkatan hidup sufi yang telah dicapai oleh para sufi untuk dekat pada Tuhan.

Menurut Abu Nasr Al-Sarraj ada 7 maqam yang harus ditempuh oleh para sufi, yaitu : taubat, wara’, zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakkal, dan keridhaan. Sedangkan menurut Al-Kadabzi yang harus ditempuh ada beberapa maqam, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, tawadlu’, takwa, tawakkal, ridha, mahabbah dan ma’rifat. Berikut akan dijelaskan 7 tingkatan sufi menurut Abu Nasr Al-Sarraj.

 

  1. Taubat

Para sufi sepakat menempatkan taubat sebagai stasion pertama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Taubat menurut Ibn hamdan adalah kembali dari sesuatu yang diketahui tercela kepada sesuatu yang terpuji, sedangkan Al-Gahzalli menyebutkan taubat adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. Pendapat lain oleh Imam Haramain tentang taubat sebagai suatu keinginan untuk meninggalkan dan tidak ingin kembali melakukan kejahatan yang sama karena membesarkan Allah dan menghindari kemurkaanNya.

Taubat yang dimaksud dalam sufi adalah taubat yang sebenar-benarnya, taubat yang tidak akan kembali berbuat dosa. Terkadang taubat tidak dapat dicapai dengan sekali langkah, akan tetapi perlu berulang dan istiqomah. Taubat bukan hanya sebagai penghapus dosa, tapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepadaTuhan, dengan demikian calon sufi harus benar-benar bersih dari dosa.

 

  1. Zuhud

Zuhud artinya meninggalkan dunia dan hidup kematerian, bukan saja dari yang haram, tetapi juga yang halal. Bagi seorang sufi, zuhud merupakan station penting yang harus dilalui, tanpa jalan zuhud calon sufi tidak akan mencapai derajat sufi. Ahmad bin Hambal membagi zuhud menjadi tiga macam, 1) zuhud awam dengan meninggalkan yang haram, 2) zuhud orang khowas dengan meninggalkan yang halal dan 3) zuhud orang arif dengan meninggalkan apa saja yang akan menghalanginya dari Allah.

 

 

  1. Wara’

Menurut Abu Zakaria al-Anshari wara’ adalah menjauhkan diri dari syubhat dan dari yang tidak membawa kebaikan dalam kehidupan agama walaupun halal. Imam Al-Qusyairimengutip perkataan Ibrahim bin Adham mengatakan bahwa wara’ adalah meninggalkan syubhat dan segala yang bukan kepentingannya, yaitu segala yang berlebih-lebihan.

Dilihat dari jenisnya wara’ terbagi menjadi dua, yakni wara’ lahir dan wara’ batin. Wara’ lahir adalah tidak menggerakkan anggota tubuh, melainkan hanya untuk sesuatu yang diridhoi Allah. Sedangkan wara’ batin adalah tidak memasukkan kepada ingatan dan kenangan kecuali kepada Allah.

Al-Sarraj membagi wara’ menjadi tiga tingkatan : 1) memelihara diri dari yang syubhat, 2) memelihara diri dari yang halal yang akan membawa kepada maksiat dan 3) memlihara diri dari sesuatu yang halal yang akan membawa lupa kepada Allah. Dengan wara’ seorang sufi dapat menghilangkan segala rintangan yang akan menghalangi diri dari dekat kepada Allah.

 

  1. Fakr

Fakr adalah berhajat kepada sesuatu, menurut Ibnu Qudamah dan Al-ghazali fakir adalah orang yang selalu berhajat kepada Allah dan selalu memerlukan kemurahanNya. Menurut Al-ghazali sifat ini merupakan sebagaian sifat iman dan buah ma’rifat yang mendalam sehingga dalam pandangan hati si fakir merasakan bahwa ia selalu berhajat kepada Allah. Hal ini dijelaskan dalan Al-Qur’an surat Al-Fathir ayat 15.

Orang sufi tidak menolak menerima pendirian dan bantuan orang lain, namun menerima pendirian dan bantuan merka memperhatikan tiga hal. Pertama, benda yang diberikannya apakah halal, haram atau syubhat. Kedua, si pemberi tidak mempunyai tujuan untuk keuntungan atau kepentingan seendiri. Ketiga, tujuan pemberian hanyalah mengharap pahala dari Allah.

 

  1. Sabar

Sabar menurut Abu Zakaria Al-Anshari merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenangi atau yang dibenci. Menurut Qasim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat. Sedangkan menurut Al-Ghazali sabar adalah sebuah kondisi jiwa dalam mengendalikan nafsu yang terjadi kaena dorongan agama. Al-Ghazali membagi sabar menjadi 3 tingkatan, yaitu :

  1. Sabar tertinggi, yaitu sifat yang mampu menghadapi semua dorongan nafsu sehiungga nafsu benar-benar dapat ditundukkan seperti diterangkan dalam Q.S.Muhammad ayat 31
  2. Sabar orang-orang yang sedang dalam perjuangan. Pada tahap ini terkadang mereka dapat menguasai hawa nafsu, tetapi terkadang mereka dikuasai hawa nafsu, sehingga bercampur aduk antara yang baik dan yang buruk, seperti disebutkan dalam Q.S.Al-furqon ayat 44.
  3. Tinngkatan terendah, yaitu sabar karena kuatnya hawa nafsu dan kalahnya dorongan agama. Seperti dijelaskan dalam firman Allah Q.S.As-Sajdah ayat 13.

 

  1. Tawakkal

Tawakkal berarti keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain. Dalam dunia tasawuf tawakkal dapat dipahami sebagai sikap mental seorang sufi, merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat sepenuhnya kepada Allah, karena keyakinannya ini mendorong seorang sufi menyerahka urusannya kepada Allah, maka hatinya tenang, tentram dan tidak timbul rasa curiga.

Tawakkal terdiri dari 3 tingkatan. Pertama, tingkat bidayah (pemula) yakni tawakkal pada tingkat hati yang selalu merasa tentram terhadap apa pun yang sudah dijanjikan Allah. Kedua, tingkat mutawastika (pertengahan) yakni tawakkal kepada allah karena yakin bahwa allah mengetahui keadaan dirinya. Ketiga, tingkat nihayah (terakhir) yakni tawakkal pada tingkat terjadi penyerahan diri seorang sufi pada ridha atau merasa lapang menerima segala ketentuan Allah. Tawakkal ini menyerah seutuhnya kepada Allah.

 

  1. Ridha

Ridha menurut Al-Qushairi adalah tidak menentang apa yang telah ditetapkan Allah, sedangkan menurut Ibn Khaff ridha adalah tenangnya hati dalam menghadapi ketentuan-ketentuan Allah. Rabi’ah Al-Adawiyah mengatakan bahwa yang disebut ridha adalah ketika mendapat bencana, perasaan cinta kepada allah sama seperti pada saat mendapat nikmat.

Ridha pada mulanya merupakan penemuan jiwa yang diperoleh melalui usaha manusia, sedangkan terciptanya ridha semata-mata karena karunia allah yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki dengan ridhaNya, sebagaimana dalam surat Al-Bayyinah ayat 8.

 

  1. B.     Ahwal

Ahwal merupakan bentuk jama’ dari hal yaitu sikap Rohaniah seorang sufi dalam perjalanan tasawufnya. Perbedaan antara maqam dan hal terletak pada sumbernya, apabila maqam didapat manusia melalui usaha yang sungguh-sungguh dan latihan terus menerus, maka hal merupakan anugerah Allah bagi yang dikehendakiNya. Ahwal banyak macamnya, diantaranya adalah :

  1. Khauf

Khauf artinya merasa takut, khauf yang dimaksud dalam tasawuf adalah takut kepada Allah, takut karena siksaNya. Abu Al-Kasim Al-Hakim mengatakan seseorang yang takut kepada sesuatu selain allah akan lari dan menjauhi sesuatu yang ditakutinya, tetapi apabila seseorang itu takut kepada Allah maka ia justru akan mendekatiNya dan semakin bertambah taat dan patuh kepada perintahNya,

Al-ghazali membagi khauf menjadi dua macam, yaitu khauf karena kehilangan nikmat dan khauf karena siksaan.

  1.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s