peran ilmu pengetahuan

MAKALAH

 

“PERAN ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI PILAR PENEGAK PERADABAN KAUM MUSLIM”

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam

Oleh Prof. DR.H. Thoha Hamim, MA

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Indah Masruroh

Khoirin Nikmatus S

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM (UNIPDU)

JOMBANG

2009

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Peradaban Islam dan kebudayaan Yunani merupakan dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan. Hal tersebut termaktub dalam buku seorang kristen Arab, Jamil Shaliba yang berjudul al-Falsafah al-Arabiyyah. Pilar-pilar peradaban Islam yang berhasil melahirkan filsuf, dokter, astronom, ahli matematika hingga hukum berkelas dunia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jasa-jasa ilmuan yang berasal dari kebudayaan pra-Islam, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan India.

 Berangkat dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa kebudayaan Yunani telah memberikan andil yang sangat besar bagi bangunan peradaban Islam klasik. Dan pada wilayah peradaban Islam bidang filsafat. Filsafat sebagai khazanah Islam telah membuktikan diri sebagai lokomotif utama bagi gerakan pengetahuan yang kemudian menjadi fondasi bagi peradaban Islam. Keterbukaan umat Islam terhadap khazanah klasik pra-Islam memberikan ruang bagi proses penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India. Proses penerjemahan ini memiliki pengaruh pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan pengetahuan dalam dunia Islam. Filsafat dalam hal ini menjadi bidang yang cukup digandrungi oleh sebagian intelektual Islam pada masa itu.

 Lantas bagaimanakah proses penyebaran dan pembentukan filsafat dalam dunia Islam? Filsafat yang berasal dari kata Yunani, Philosophia, berarti cinta kebijaksanaan. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasaArab menjadi al-falsafah, sementara orang yang menggeluti bidang ini disebut al-falasifah (para filsuf). Filsafat Islam dalam hal ini adalah sebuah produk dari proses pemikiran yang dihasilkan oleh para sarjana muslim klasik setelah mengalami persinggungan dengan kebudayaan Yunani. Karena, kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani mulai dikenal oleh umat Islam setelah membaca buku-buku pemikir dari Yunani. Orang Islam pertama yang dikenal sebagai filsuf Islam pertama adalah Abu Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi (Wafat sekitar 257 H/ 870 M).[1]

 Uraian tentang transmisi kebudayaan Yunani dalam peradaban Islam ini akan di mulai dengan perkenalan umat Islam akan kebudayaan-kebudayaan besar pra-Islam yang ada di beberapa wilayah kekuasaan umat Islam yang sedang meluas saat itu. Perkenalan yang didasari atas semangat Islam yang menganjurkan untuk mempelajari pengetahuan dari siapa pun berlanjut pada proses penerjemahan besar-besaran selama kurang lebih dua abad, dari awal abad ketujuh hingga akhir abad kedelapan. Proses penerjemahan ini meliputi dari berbagai kebudayaan, khususnya dari Yunani kemudian Persia dan India. Selama kurang dari dua abad ini, yang terjadi adalah sebuah proses penerjemahan yang melibatkan banyak intelektual Kristen Nestorian yang kebetulan mahir dalam beberapa bahasa penting saat itu, Yunani, Suryani dan Arab. Baru setelah banyak buku-buku dari kebudayaan non-Islam diterjemahkan ke dalam bahasaArab, mulailah bermunculan produk-produk pemikiran yang disebut filsafat Islam.

Kelahiran filsafat Islam inilah merupakan babak baru atau pintu gerbang bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam secara besar-besaran, yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan peradaban dunia yang paling maju saat itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Ilmu Sebagai Penegak Peradaban

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu. Dengan ilmu, Islam mampu membangun sebuah peradaban yang menginspirasi munculnya peradaban baru lainnya.

Banyak ayat al-Quran dan al-Sunnah yang menganjurkan kaum Muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Al-Quran demikian menghormati kedudukan ilmu dengan penghormatan yang tidak ditemukan bandingannya dalam kitab-kitab suci yang lain. Di dalam al-Qur\’an terdapat beratus-ratus ayat yang berbicara tentang ilmu dan pengetahuan dan menyebut kemuliaan dan ketinggian derajat ilmu. Sebagaimana firman Allah SWT: Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. (QS. Al Mujaadilah : 11).

Dalam surat lain orang-orang berilmu dipandang positif oleh Al Qur\’an dengan diumpamakan sebagai orang-orang melek di antara orang-orang buta. Allah berfirman : Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melek? Apakah kamu tidak berfikir? (QS. Al An-Aam : 50). Ayat lain menanyakan : Apakah (kamu kira) sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak berilmu? Jawabannya tentu saja tidak.

Di dalam Al Qur\’an, seperti yang terlihat pada studi yang dilakukan Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo (Ulumul Quran No. 4/1990), kata i\’lm disebut sebanyak 105 kali dan sebanyak 744 kali dengan kata jadiannya. Kata ilm disebut dalam bentuk dan frekuensi sebagai berikut: alima (35 kali), ya\’lamu (215), I\’lam (31), yu\’lamu (1), ilm (105). alim (18), ma\’lum (13), alimin (73), alam (3),a\’lam (49), alim atau ulama (163), allam (4), allama (12), yu\’limu (16), ulima (3), mu\’allam (1), atau ta\’allam (2).

Melihat ayat-ayat yang disebutkan diatas menunjukkan bahwa al-Quran merupakan faktor pendorong bagi Muslimin untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional, baik ilmu kealaman maupun matematika. Dalam banyak ayat, al-Quran mengajak untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit, bintang-bintang yang bercahaya, susunannya yang menakjubkan dan peredaraannya yang mapan. Ia juga mengajak manusia untuk memikirkan penciptaan bumi, laut, gunung-gunung, lemah, keajaiban-keajaiban yang terdapat di dalam perut bumi, pergantian malam dan siang dam musim. Ia mengajak untuk memikirkan keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, sistim perkambangannya dan keadaan-keadaan lingkungannya. Ia mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia-rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah.

Al-Quran juga mengajak untuk mengadakan perjalanan di dunia, memikirkan peninggalan orang-orang terdahulu serta meneliti keadaan bangsa-bangsa, kelompok-kelompok manusia, kisah-kisah, sejarah dan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari mereka dengan mengambil alih dan menerjemahkan dari bahasa-bahasa lain, pada permulaannnya.

Itulah sejumlah fakta tentang betapa al-Quran telah mendorong kemajuan kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun demikian, ada yang harus kita renungkan, bahwa sekarang ini telah terjadi ironi, ketika al-Quran begitu kuat mendorong untuk memperdalam ilmu pengetahuan, namun kita kaum Muslimin telah tertinggal di bidang ini.

Padahal dalam catatan sejarah, para ilmuwan Muslim telah mampu membawa Islam pada peradaban maju selama 14 abad (abad ke-7 hingga abad ke-14 M). Di antara ilmuwan Muslim itu adalah : al-Khawarizmi, pendiri aljabar dan penemu angka nol yang meretas jalan ke arah apa yang kita kenal sekarang sebagai matematika modern. Al-Razi, penulis ensiklopedia kedokteran, Continens, yang dicetak ulang sebanyak 40 kali, al-Biruni, ilmuwan fisikan dan matematika, Ibnu Haytam, seorang matematikawan, astronom dan penulis karya-karya optik, Ibnu Sina, seorang dokter, fisikawan, filosof dan teolog, Ibnu Khaldun, seorang ahli hukum, negarawan dan juga dikenal sebagai bapak sosiologi dan sejarah, Ibnu Rusyd, seorang pemikir dan filosof, al Kindi, al Farabi, Omar Khayam, Al Ghazali dan sebagainya.

Para ilmuwan Muslim ini berhasil membangun sebuah peradaban yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, filsafat dan kesenian. Tiga pilar peradaban ini ternyata mampu membawa Islam pada zaman keemasan. Menurut Toby E. Huff dalam bukunya yang berjudul the Rise of Early Modern Science, dari abad ke delapan hingga akhir abad keempat belas, ilmu pengetahuan Arab (Islam) adalah sain yang paling maju di dunia yang jauh melampaui Barat dan Cina.

B. Pendorong Majunya Peradaban

Menurut Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya yang berjudul Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam setidaknya ada tiga faktor pendorong kemajuan ilmu sehingga lahir kejayaan Islam.

Pertama, faktor dorongan agama dimana Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dikemukakan di atas. Kedua, faktor apresiasi masyarakat (penghargaan yang tinggi). Selain kewajiban agama dan janji pahala (surga) yang akan diberikan Tuhan kepada penuntut ilmu, faktor penting lainnya yang bertanggung jawab atas berkembangnya ilmu pengetahuan (dan tradisi ilmiah yang diembannya) adalah apresiasi (penghargaan yang tinggi) masyarakat terhadap ilmu dan juga ilmuwan-ilmuwannya.

Sejarah mencatat betapa ilmuwan-ilmuwan (ulama) sangat dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari kelas bawah, menengah dan atas. Kehadiran seorang ilmuwan (ulama) selalu membangkitkan gairah masyarakat untuk menemui dan mendengarkan pidato-pidatonya.

Selain penghormatan dan penghargaan yang besar terhadap ilmuwan, apresiasi yang tinggi juga diberikan oleh masyarakat, khususnya para penguasa saat itu kepada ilmu itu sendiri. Masyarakat Baghdad, misalnya, sangat gemar untuk menyaksikan debat terbuka yang diselenggarakan di tempat-tempat umum antara para teolog dan filosof. Para penguasa sangat berkenan mengundang ilmuwan untuk datang ke istana dan merasa terhormat dengan kedatangan itu serta meminta mereka untuk menulis berbagai buku dengan memberi imbalan atau honor atau penghargaan yang tinggi kepada sang ilmuwan, baik dalam bentuk finansial maupun promosi jabatan.

Ketiga, patronase (perlindungan, pengayoman, dukungan finansial) para penguasa atas sarana-sarana pendidikanformal dan non formal kegiatan-kegiatan ilmiah, maupun penelitian-penelitian individual para sarjana.

Bentuk perlindungan penguasa itu dapat dirincikan; (1) undangan para penguasa kepada para ilmuwan untuk tinggal di istana. (2) pembangunan sarana pendidikan, seperti akademi, rumah sakit, observatarium, perpustakaan, college (madrasah). (3) pembiayaan/dukungan finansial untuk melakukan riset ilmiah. (4) penyelenggaraan seminar oleh para penguasa. (5) pemberian bea-siswa kepada mereka yang dipandang potensial dalam ilmu pengetahuan.

 

C. Membangun Kembali Pilar Peradaban Bangsa

Perkembangan ilmu pengetahuan bukan dimulai ketika mulai munculnya ilmu filsafat yang telah di adopsi dari masyarakat yunani, akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam telah terjadi, jauh sebelum terjadi adopsi budaya tersebut. Terdapat beberapa peristiwa tentang peletakan pilar-pilar penegak peradaban dalam Islam oleh Nabi Muhammad, diantaranya, yakni :

1. Spirit Bukit Shafa : Afirmasi atas Pandangan Hidup Islam

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan (kepadamu wahai Muhammad) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!”.[3] Inilah perintah Allah s.w.t. yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia, tersembunyi) sekaligus sebagai deklarasi dakwah pada tataran publik (jahriyah).

Rasululllah naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru “ya shabâhah!”. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w. Beliau berkata:”Wahai Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai Bani Ka’ab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa,di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”. Secara aklamasi mereka menjawab, “Ok, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja.” “Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat.” Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, “celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril ‘alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran rasulNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti  binasa”[4]

Narasi sejarah ini menjelaskan hal yang sangat penting tentang worldview (al-tashawwur al-Islamy; ru’yatul Islam lil wujûd) seorang muslim dan bangsa muslim yang khas. Sebuah titik tolak peradaban universal yang kontra paganisme dan rasialisme etnik, tidak tersekat oleh kekerdilan suku, ras, masyarakat, budaya ataupun batas-batas geografis, sebagaimana universalitas Islam yang difirmankan oleh Allah SWT : “Dan tidalah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta!”.[5] Potret bangsa muslim, tidak boleh tidak, harus sesuai dengan karakteristik dasar Islam itu sendiri; Rabbaniyah (Allah Oriented pada dimensi sumber ajaran dan tujuan); insaniyah-‘alamiyah (universal dan kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis); al-‘adl al-muthlaq (berkeadilan, anti tirani dan kezaliman apa dan siapapun); al-tawâzun bayna al-fard wa al-jamâah (keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial); tsabât wa al-tathawwur (kombinasi serasi antara perkara konservatif dan kemajuan zaman).

 

2. Sirah Nabawiyah : Cermin Membangun Karakter Bangsa

Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.[6] Dengan demikian, karakter bangsa berarti yang membedakan kita dengan bangsa lain pada aspek-aspek tersebut.

Karakter sebuah bangsa terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian mereka terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter bangsa merupakan hasil interaksi  totalitas bangsa tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang dimilikinya. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar bersama. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif bagi alam semesta, rahmatan lil’alamin.

Batasan makna karakter terbaca menginformasikan kepada kita tentang pentingnya bercermin pada sejarah, terlebih sirah nabawiyah. Rekonstruksi dan reaktualisasi pemaknaan sejarah kenabian menjadi cermin penting dalam menata ulang bangunan karakter dan kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin pudar. Dari perspektif ini penulis mengelaborasi karakteristik kebangsaan kita.

Ketika dakwah Rasulullah s.a.w. tak lagi terbendung dengan berbagai strategi perlawanan dan rekayasa opini publik masyarakat Arab masa itu, ditawarkan beberapa pilihan yang menggiurkan kepada Rasulullah .s.a.w.; harta, tahta dan wanita. Bahkan sampai pada opsi kompromi teologis dengan secara bergantian menyembah tuhan masing-masing. Semuanya ditolak!. Beliau dengan tegar menyatakan konsisten menjalankan ajarannya di jalur ‘kultural’ dengan menata ulang visi ketuhanan masyarakat Arab, visi kemanusiaan, visi tentang hidup dan visi tentang alam tercipta yang telah terkontaminasi sedemikian jauh dengan virus-virus paganisme dan rasialisme etnik masyarakat Arab lalu mengisinya dengan tauhid sebagaimana grand design dakwah para Nabi sebelumnya. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai proses al-takhliyah qabla al-tahliyah; pengosongan diri dari segala hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai luhur Islam sebelum berfesona dengannya.

Di sini kita belajar untuk menjadi bangsa yang kritis (critical society), bukan saja sebagai individu. Kita dituntut secara massif untuk mengkonservasi nilai-nilai fundamental keimanan, keislaman dan keindonesiaan kita di tengah serbuan pasar ideologi kontemporer yang destruktif atas kemanusiaan sejagad. Dalam konteks ini, barangkali, kita perlu melakukan perlawanan bersama atas berbagai varian neo kolonialisme dan imperialisme global  yang menggerogoti organ vital kepribadian masyarakat kita; izzah sebagai bangsa muslim! Inilah inti ajaran tauhid, melawan tirani (thagut) dan reorientasi penghambaan (‘ubudiyah) hanya kepada Allah s.w.t. (tauhid). Visi kehidupan tauhidik ini berlawanan secara diametral dengan paganisme kekinian yang mengeksploitasi kemanusiaan kita. Kita sebut saja visi ini sebagai visi tauhidik.

Visi ini berimplikasi lebih jauh pada potret dan orientasi bangsa muslim yang universal dan  kosmopolitan. Dalam struktur kepribadian bangsa kita, dengan perspektif kesatuan Pencipta dan ciptaan (wihdatul Khaliq wa al-khlaq) dan kesatuan kemanusiaan (wihdat al-basyariyah), manusia tidak lagi dipandang berdasarkan paradigma etnik dan religio-kultural. Tidak pula dipilah berdasarkan sosio-geografisnya. Satu-satunya parameter yang kompatibel dengan semangat tauhid ialah ketaqwaan yang aktual dalam tataran kehidupan  pribadi, sosial serta berimplikasi positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. [7]

Wajah bangsa muslim yang kosmopolitan dan universal ditegakkan atas prinsip-prinsip moral yang menjadi konsensus bersama bagi segenap komunitas yang berada di teritorial Islam. Dalam hal ini, sekali lagi, Rasulullah s.a.w. tidak membeda-bedakan muslim-non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihatlah klausal-klausal yang tertera pada Piagam Madinah (mîtsâq al-Madînah), yang menurut para pakar sejarah dan tata negara merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernik-pernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia. Rasulullah s.a.w. menegaskan kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Keadilan meletakkan manusia sejajar, tanpa memandang status dan jabatan. [8]

Pada tataran relasi antar-manusia dengan ragam keyakinan yang bebeda, Al-Qur’an Al-Karim mengajarkan kita untuk tidak menjadi masyarakat yang kerdil, tidak ekslusif sebagaimana doktrin rasialisme kaum Yahudi “the people of God” (sya’bullâh al-mukhtâr).[9] Bahkan dalam tataran keyakinan sekalipun, Islam tak pernah menerapkan ‘paksaan’ dan intimidasi teologis sebagaimana fakta sejarah abad Pertengahan dalam kehidupan Gereja. Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah s.w.t. [10]

Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas  masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Ini pula yang berimplikasi pada kohesivitas antar kelompok dan individu, terlebih sesama kaum beriman sebagaimana dicontohkan dalam catatan mu’âkhât (persaudaraan) Muhajirin dan Anshar.

Kohesivitas individu dan sosial generasi awal (salaf) di masa Rasulullah s.a.w yang sangat kokoh karena frekuensi  dan basis spiritual yang sama di antara mereka. Modal spiritual (quwwah rûhiyah) ini pula yang dicatat oleh sejarah dalam membangun awal peradaban Islam yang agung. Peradaban dengan visi Uluhiyah yang sangat kental. Pembangunan dua masjid; Quba’ dan Nabawi menjadi saksi sejarah kokohnya basis spiritual tersebut. [11]

Terakhir, bangsa  muslim adalah bangsa apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dengan penalaran yang lain, dapat dijelaskan bahwa ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah s.a.w. mengevakuasi manusia dari keterpurukan “fase mitologi” menuju fase bermartabat yang berbasis ilmu dan pengetahuan. [12]Dari perspektif ini kita memahami dengan baik bahwa arpresiasi dan pujian sebagai “Ulul Albab”[13] dapat diraih tatkala segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayat-ayat atau tanda keagungan Allah s.w.t., bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah. Wahyu pertama “Iqra’” memberikan landasan kokoh terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam sejarah panjang peradaban Islam kemudian. Cermati pula kisah ahlu shuffah yang setia menimba ilmu setiap saat kepada Rasulullah s.a.w. Di sini kita memahami bangsa muslim ialah bangsa dengan etos ilmu yang tinggi.

 

3. Peran Intelektual Muda Muslim

 

Islam memandang pemuda sebagai penopang pilar utama transformasi sebuah bangsa. Lihatlah Rasulullah s.a.w. Pada usia 15-20 tahun beliau telah terlibat berbagai  peristiwa militer  dan memainkan peran diplomatik penyelesaian sengketa masyarakat Arab. Bahkan pada usia yang sangat dini (12 tahun), beliau melakukan perjalanan bisnis ke Syam (Syria). Ini pengalaman perjalananan internasional. Beliau bertemu dengan Pendeta Buhaira yang meramalkan kenabiannya, sesuai dengan apa yang tertera di Kitab Sucinya. Sinopsis kehidupan seperti ini telah membentuk konsep diri dan peran strategis beliau dalam narasi panjang sejarah peradaban Islam.

Al-Qur’an juga bercerita kepada kita tentang Ashab al-Kahfi yang tangguh.”Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk”[14].

Al-Qur’anpun berkisah tentang pemuda Ibrahim a.s. yang bermental baja dalam membasmi berhala, tapi juga sosok yang sangat santun dalam berdialog dengan kaumnya. Beliau penjadi pilar utama perubahan kaumnya, bahkan menjadi sentral perhatian kaumnya,”Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim”.[15] Demikian pula tentang sosok Nabiyaullah Ismail a.s. dan nabiyullah Yusuf a.s. Mereka adalah pemuda-pemuda tangguh dan tokoh transformasi umatnya.

Dengan demikian sesungguhnya kita memiliki pijakan historis berdasarkan penuturan Al-Qur’an yang terbuktikan, bukan sekedar apologi teologis yang romantis. Maka, visi tauhidik yang telah penulis sampaikan pada bagian terdahulu hendaklah dapat mentransformasikan setiap individu di antara kita untuk hadir di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kontribusi terbaik serta karakter mulia yang membebaskan kita dari segala kungkungan dan tirani sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan tirani intelektual itu sendiri. Semua itu dapat kita rumuskan pada atribut intelektual muda muslim berikut ini : Pertama, memahami dan berpegang teguh pada ajaran tauhid serta komitmen yang utuh kepada Allah s.w.t. (Islamic world-view, a-tashawwur al-Islamy). Kedua, menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah s.w.t. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakannya itu berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh belenggu buatan manusia, supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kukuh. Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan paham  hidupnya. Bila dalam penilaiannya ternyata terdapat unsur-unsur syirik dalam arti luas, maka ia selalu bersedia untuk berubah dan mengubah hal-hal itu agar sesuai dengan pesan-pesan ilahi. Manusia-tauhid adalah progresif karena ia tidak pernah menolak setiap perubahan yang positif. Ia berinteraksi dengan berbagai produk budaya dan peradaban asing yang antagonis dengan Islam.Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Kelima, visi kehidupan yang jelas tentang kehidupan yang akan dibangun bersama manusia lainnya; hablun minallah dan hablun minannas (keseimbangan dimensi vertikal dan horisontal).Keenam, seorang intelektual muda muslim harus terlibat aktif dalam transformasi masyarakat, tidak menjadi tawanan menara gading yang jauh dari penderitaan umatnya.[16]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu. Dengan ilmu, Islam mampu membangun sebuah peradaban yang menginspirasi munculnya peradaban baru lainnya. Hal tersebut didukung oleh kitab suci agama Islam, yakni Al Qur’an yang di dalamnya berisi rahasia-rahasia alam yang diperlukan manusia dalam kehidupannya yang secara terus menerus mengajak manusia untuk merenung, berpikir dan belajar dari tiap-tiap kejadian di alam semesta.

Dalam Al Qur’an perintah mencari ilmu berkali-kali disebutkan, bahkan Allah memberikan derajat yang tinggi bagi orang yang berilmu. Maka tidaklah salah apabila peradaban Islam merupakan tonggak majunya peradaban dunia, hal tersebut dibuktikan oleh tokoh ilmuwan muslim yang namanya hingga kini dikenang dan manjadi bapak dari masing-masing keilmuwan yang mereka kuasai dan perjanjian madinah yang diakui para ahli sejarah sebagai konstitusi tertulis pertama didunia yang mengakui persamaan hak.

Para ilmuwan Muslim tersebut berhasil membangun sebuah peradaban yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, filsafat dan kesenian yang mereka kaji dari Al Qur’an. Tiga pilar peradaban ini ternyata mampu membawa Islam pada zaman keemasan. Maka begitu besarnya peran ilmu pegetahuan dalam membentuk peradaban dapat dibuktikan secara nyata dalam Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.hupelita.com/baca.php?id=61066

 

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/agama/kebudayaan-yunani-dalam-peradaban-islam

 

http://fathurkamal.staff.umy.ac.id/?p=21

 

[3] QS. Al-Hijr [15] : 94

 

[4] HR Bukhari-Muslim

 

[5] QS Al-Qalam [68] : 52

 

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet ke-4, hal. 445

 

[7] Al-Hujurat : 13

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

AlI ‘Imran : 110

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

 

[8] HR Bukhari Muslim

 

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ, لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

 

يا أيها الناس ! إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ، ألا لا فضل لعربي على عجمي ولا عجمي على عربي و لا أحمر على أسود و لا أسود على أحمر إلا بالتقوى ( إن أكرمكم عند الله أتقاكم )، ألا هل بلغت ؟ قالوا : بلى يا رسول الله ! قال :فيبلغ الشاهد الغائب (رواه البيهقى وصححه الألباني)          

 

[9] Q.S. Al-Mumtahanah : 8-9

 

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

[10] Q.S. Al-Baqarah : 256

 

لَاإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

Lihat pula Q.S. Al-An’am : 108

 

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

 

[11] Q.S. Al-Taubah : 108-109

 

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ. أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

 

[12] Perhatikan respon Rasulullah s.a.w ketika mendapat informasi tentang sikap sebagian sahabat tentang gerhana yang terjadi (HR Bukhari-Muslim) :

 

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا.”وفى رواية : فَاذْكُرُوا اللَّه

 

[13] Lihat Q.S. Alu Imran : 90-91

 

[14] Q.S. Al-Khf : 13

 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

 

[15] Q.S. Al-Anbiya’ : 60 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

 

[16] Q.S. Al-Tawbah : 128

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s