Penjelasan Materi PAI SMA

MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SMA KELAS X SEMESTER 1

 

Disampaikan untuk sebagai bahan diskusi pada Mata Kuliah Kurikulum Pengembangan PAI

Dosen: A.S.Mahfud, M.PdI

 

  1. Pendahuluan

Pendidikan adalah salah satu penentu keberhasilan seseorang. Bagaimana dia berkata, bersikap dan bermasyarakat menunjukkan tingkat sosial dan pendidikan pribadi tersebut. Melihat pentingnya sebuah arti dari pendidikan perlu kiranya untuk kita umat muslim yang bertugas untuk melestarikan ajaran Islam di muka bumi ini mengerti segala sesuatu tentang pendidikan dengan tujuan menjaga tegaknya dakwah Islam.

Pendidikan meliputi banyak aspek dan materi yang dikaji, salah satunya adalah materi Pendidikan Agama Islam untuk tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) yang bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap kurikulum, akan tetapi lebih pada pemberian dasar pengetahuan agama yang benar sebagai tuntunan hidup manusia.

Usia labil yang dimiliki para remaja usia SMA perlu pengawalan ketat dalam perkembangannya. Tuntutan jaman yang semakin tinggi terkadang membuat para remaja bingung dan kehilangan identitas diri, bangsa dan agamanya. Disinilah arti penting materi PAI, dengan keterbatasan waktu pertemuan dalam memberikan materi guru dipaksa untuk dapat memberikan materi sekaligus teladan bagi siswa-siswi SMA yang rentan pada pengaruh negative lingkungan.

Berikut ini akan kami ulas beberapa materi SMA kelas X semester 1

 

  1. Pembahasan

Berikut ini kami sajikan Materi PAI untuk tingkat SMA kelas 1 Semester 1 yang terbagi menjadi 3 pokok bahasan secara garis besar, yaitu :

  1. Al Qur’an

Dalam materi Al-qur’an ini terdapat 2 standart yang harus di capai siswa yakni :

  1. Memahami manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi,

Dalam materi ini dijelaskan beberapa ayat al-qur’an yang menjadikan dasar tugas manusia sebagai khalifah/ pemimpin di atas bumi, diantara ayat tersebut adalah

Al-baqarah ayat 30

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

 

 

Artinya :

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

 

Kandungan Surah al-Baqarah Ayat 30

Berdasarkan terjemah diatas dapat disimpulkan:

  1. Rencana Allah untuk menciptakan khalifah dimuka bumi yang akan diperankan
    oleh manusia
  2. Malaikat menyaksikan kemampuan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, tetapi
    Allah meyakinkannya. Dengan diberi karunia akal manusia dapat
    mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan
  3. Tugas manusia di muka bumi adalah melestarikan dan memanfaatkan segala
    isinya dengan tetap menjaga keseimbangan alamnya.

 

Ayat diatas menyatakan keterkejutan malaikat ketika diberitahu bahwa Allah
SWT. Akan menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi. Mereka bertanya kepada
Allah SWT., mengapa Adam yang akan di angkat menjadi khalifah, padahal Adam
dan keturunanya, adalah makhluk yang berbuat kerusakan dan pertumpahan darah.
Sebaliknya, para malaikat menganggap bahwa dirinya lebih pantas memangku
jabatan tersebut sebab mereka senantiasa memuji dan menyucikan Allah SWT.
Sepanjang hidupnya. Allah SWT. Tidak membenarkan anggapan para malaikat
tersebut. Allah SWT. Melakukan segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan
Hikmah-Nya. Allah SWT. Mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh
para malaikat dan semua makhluk-Nya.

Khalifah adalah seorang yang di jadikan pengganti atau seseorang yang di beri wewenang untuk bertindak atau berbuat sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
yang memberi wewenang. Adapun yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam adalah
kedudukan sebagai wakil Allah SWT. Dibumi. Ia berkewajiban melaksanakan
perintah-perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang
ada padanya. Hal itulah yang memunculkan ungkapan bahwa manusia adalah
khalifahtullah di bumi.

 

Al mu’minun ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Artinya

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

 

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

Artinya

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya :

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

 

Kandungan Surah al-Mu`minun ayat 12-14,  Secara lebih detail, manusia diciptakan dalam beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Sulalatin min tin adalah sari pati tanah yang didapatkan melalui makanan
    yang di komsumsi oleh Manusia, baik berupa hewan maupun tumbuh-tumbuhan
  2. Nutfah adalah sel sperma yang di jadiakan Allah SWT. Dari sari pati tanah.
  3. Fi qurarin makin adalah tempat yang kukuh atau rahim. Sel sperma yang
    dibuat dari sari pati tanah tersebut kemudian di letakan ke dalam rahim
    sehingga terjadi pembuahan.
  4. `Alaqah adalah embrio yang merupakan hasil pembuahan dan berwujud gumpalan
    darah. Embrio ini terbentuk pada hari kesembilan sampai hari kesebelas
    setelah pebuahan.
  5. Mudgah adalah segumpal daging yang berbentuk dari `alaqah.
  6. ‘Izam adalah mudgah yangtelah di berikan tulang atau kerangka oleh Allah
    SWT.
  7. Khalqan akhara adalah makhluk dalam bentuk yang lain,atau manusia yang baru.

 

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia di ciptakan dari sari pati ( sulalah )
dari tanah ( tin ). Allah SWT. Menciptakan manusia dari tanah. Makna ayat
tersebut adalah bahwa Allah SWT. Menjadikan manusia dari sari pati yang
berasal dari tanah. Seorang bapak dan seorang ibu mengomsumsi makanan yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Tumbuh-tumbuhan hidup dengan
mengambil unsur-unsur yang terdapat dalam tanah. Binatang ternak lalu memakan
tumbuh-tumbuhan tersebut. Sari pati makanan yang di makan bapak menjadi sel
sperma sedangkan sari pati makanan yang di makan ibu menjadi sel telur. Sel
sperma dan sel telur tersebut bertemu dalam rahim sehingga terjadi pembuahan.
Peristiwa itu merupakan awal dari proses terciptanya manusia.

 

Az-zariyat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Kandungan Surah adz-Zariyat sebagai berikut:

  1. Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah ( beribadah ) kepada-Nya.
    baik beribadah secara langsung ( hablum minallah ) yaitu hubungan kepada
    Allah seperti sholat, berdo`a dan sebagainya yang disebut mahdah, maupun
    beribadah secara tidak langsung ( hablum minannas ) yaitu hubungan kepada
    sesama manusia dalam rangka mencari rida Allah SWT. Yang disebut Ibadah
    gairu mahdah.
  2. Jin diciptakan Allah agar mereka menyembah dan mengabdi hanya kepada Allah
    SWT.

 

Al-Qur`an surat az-Zariyat Ayat 56 tersebut menjelaskan bahwa Allah
SWT. Tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Nya. Jin dan
manusia di jadikan Allah SWT. Untuk tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.
Hal itu di wujudkan dengan menaati semua peraturan Allah SWT. Serta menerima
segala takdir-Nya. Ayat tersebut juga menguatkan perintah kepada manusia untuk
selalu berzikir dan beribadah kepada Allah SWT.

An nahl 78

 

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Artinya :

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

 

Kandungan Ayat Berdasarkan terjemahan surat diatas dapat disimpulkan kandungannya; bahwa Allah membekali manusia 3 (tiga) hal :

  1. Pendengaran
  2. Penglihatan
  3. Hati Nurani

 

Al-Qur`an surah an-Nahl ayat 78 tersebut menegaskan bahwa kita dilahirkan ke
dunia ini dalam keadaan tidak mengerti apa-apa. Kita lahir dalam keadaan lemah
dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan, kita membutuhkan bantuan orang lain
sesaat setelah dilahirkan, seperti bidan, perawat dan orang tua kita. Itulah
sesungguhnya pada awal kehidupan kita. Dengan menyadari hal itu, kita akan
terjauh dari sifat sombong dan takabur.

Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Allah membekali manusia dengan tiga hal,
yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Dengan tiga hal tersebut,
manusia akan menjadi makhluk yang sempurna agar mampu menjalankan tugasnya
sebagai khalifah di muka bumi ini.

Dalam ayat itu, pendengaran di sebutkan terlebih dahulu daripada penglihatan.
Menurut para ulama, hal itu menyiratkan makna bahwa pendengaran lebih di
muliakan dari pada penglihatan. Para ulama memberikan dua alasan, mengenai hal
itu alasan pertama bahwa telinga merupakan alat untuk mendengarkan seruan di
dunia dan di akhirat. Alasan kedua adalah bahwa telinga bayi lebih dulu ber
fungsi dari pada matanya.

Dewasa ini, hal itu mendapatkan penjelasan melalui penelitian ilmiah di bidang
kedokteran. Dengan menggunakan teknologi yang telah maju, anatomi tubuh
manusia dapat diketahui dengan jelas hingga gambaran yang paling detail.
Dengan penggunaan teknologi tersebut dapat diketahui bahwa otak terdiri atas
beberapa kepingan, yaitu kepingan otak bagian depan, dahi, pelipis dan
belakang. Kepingan-kepingan itu menjadi pusat berbagai macam indra manusia.

Setelah mempelajari pusat-pusat pendengaran dan penglihatan, para Ilmuan
menemukan bahwa pusat pendengaran terletak pada kepingan pelipis yang
berhadapan dengan telinga, sedangkan pusat penglihatan terletak pada bagian
belakang otak. Dengan demikian, dilakukanya peyebutan pendengaran dari pada
penglihatan bersesuaian dengan anatomi pusat-pusat indra pada otak secara
tepat.

Fakta yang lain di tunjukan oleh ilmu imbriologin. Dalam ilmu imbriologi, di
jelaskan bahwa alat pendengaran telah berkembang saat manusia dalam bentuk
janin. Perkembangan ini jauh lebih awal sebelum perkembanganya alat
penglihatan manusia. Perkembangan telinga pada janin akan sempurna pada bulan
kelima, sedangkan mata baru akan mencapai kesempurnaan setelah kelahiran. Oleh
karena itu, janin sudah mampu mendengarkan bebagai suara,tetapi belum mampu
melihat berbagai cahaya dan gambar.

 

  1. Keikhlasan dalam beribadah
    1. Surah al-An`am ayat 162-163

 

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Artinya :

Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Artinya :

tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.

Isi kandungan surah diatas sebagai berikut :

  1. Kepasrahan jiwa dan raga untuk mengharap ridla Allah SWT.
  2. Menghindarkan diri dari kemusyrikan

 

Dalam ayat tersebut, Allah SWT. Memerintahkan Nabi Muhammad saw. Supaya
mengatakan bahwa sholatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya adalah semata-mata
untuk tuhan semesta alam. Dua ayat ini juga mengandung ajaran Allah SWT.
Kepada Nabi Muhammad saw. Yang harus disampaikan kepada umatnya. Ajaran itu
berisi cara hidup seorang muslim didunia ini bahwa semua amal ibadah harus
dilaksanakan dengan tekun, ikhlas, tanpa pamrih, dan sepenuh hati karena Allah
SWT.

Seorang muslim harus meyakini kodrat dan iradat Allah SWT. Hal itu disebabkan
Allah SWT. Adalah dzat yang menentukan hidup dan mati seseorang. Oleh karena
itu, seorang muslim tidak takut mati dalam berjihad dijalan Allah SWT.
Seorang muslim juga tidak boleh takut kehilangan kedudukan atau jabatan dalam
menyampaikan dakwah Islamiyah.

2. Surat al-Bayyinah Ayat 5

 

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 

Artinya: “Padahal mereka diperintah menyembah Allah dengan ikhlas
mentaati-Nya, semata-mata karena ( menjalankan ) agama, dan juga agar
melakukan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus ( benar )”. (Q.S. al-Bayyinah (98): 5)

Isi Surah kandungan diatas sebagai berikut :

  1. Manusia di ciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah.
  2. Memurnikan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan
    menjauhkan dari syirik
  3. Sebagai tolok ukur ketaatan kepada Allah SWT.adalah menjalankan sholat dan
    memberikan sebagian hartanya yang di anugrahkan oleh Allah SWT.

 

Dalam ayat tersebut,Allah SWT. Menegakan bahwa manusia tidak di perintah,
kecuali untuk beribadah kepada Allah. SWT. Perintah yang di tujukan kepada
manusia adalah untuk memberikan jalan kepada manusia dalam mencapai
kebahagiaan dunia dan akherat. Untuk mencapai hal itu, manusia harus berbakti
kepada Allah SWT.dengan melaksanakan ibadah secara iklas lahir dan batin. Hal
itu dilakukan dengan cara menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada
Allah SWT.

Ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata-mata mengharap
ridla Allah SWT. Orang yang mempunyai sifat ikhlas disebut Mukhlis.
Apabila dalam ibadah ada motif selain karena Allah SWT. Semata, ibadah
tersebut akan di warnai oleh sikap ria, sum`ah, sombong, angkuh dan ujub.

Beberapa keuntungan sikap ikhlas adalah sebagai berikut.

  1. Ikhlas merupakan syarat mutlak di terima atau tidaknya suatu ibadah.
  2. Orang yang ikhlas akan menjalankan ibadah dengan semangat, baik dilihat
    orang maupun tidak. Hal ini disebabkan ia beribadah bukan mengharapkan
    pujian dan sanjungan orang lain.
  3. Orang yang ikhlas senantiasa sabar,tabah, teguh pendirian dan tidak kecil
    hati. Ia akan tetap melakukan walaupun banyak orang yang mencemooh dan
    mencelanya.
  4. Orang yang ikhlas tidak akan sombong pada saat mendapat pujian dan
    sanjuangan dari orang lain.
  5. keiklasan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati serta menjaukan
    diri dari godaan iblis. Iblis tidak akan mampu menggoda dan menyesatkan
    orang yang ikhlas.

 

  1. Aqidah

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Nabi saw. bersabda: Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan Dia menyukai yang ganjil. (Shahih Muslim No.4835)

Berdasarkan hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa jaminan surge telah diberikan Allah kepada semua muslim yang mampu menghafalkan asmaul husna (nama-nama mulia) milik Allah. Berikut ini beberapa asmaul husna :

  1. Ar-Rahman (Maha Pengasih)

Allah selalu mengasihi semua makhluk yang diciptakannya dimanapun dan bagaimanapun keadaannya. Dengan meneladani sifat ini manusia akan bisa mengasihi tanpa memandang status, rupa dan asalnya.

  1. Ar-Rahim (Maha Penyayang)
  2. Al.Malik (Maha Raja Diraja)
  3. Al.Quddus
  4. Al.Salam
  5. Al mukmin
  6. Al Muhaimin
  7. Al.Aziz
  8. Al.Jabbar
  9. Al.Mutakabbir

 

Dari beberapa asmaul husna yang tersebut diatas patut kiranya sebagai umat muslim kita meniru sifat-sifat Allah tersebut, dengan meneladani Ar-rahman kita akan dapat selalu mengasihi kepada semua makhluk Allah baik berupa hewan dan Tumbuhan, tidak ada lagi hutan gundul atau perburuan liar yang manfaatnya akan kembali pada kita sendiri.

Dengan sifat ar-rahim kita akan hidup berdampingan saling menyayangi, tidak akan ada lagi teroris atau tawuran. Dengan memaknai sifat Allah yang Al-mutakabbir tidak akan aka nada sebenih sawi kesombongan dalam diri kita, karena kita menyadari dengan penuh bahwa Allah yang memiliki semuanya sedangkan kita hanya ciptaan-Nya dan akan sangat konyol apabila kita menyombongkan kemiskinan dan kebodohan kita didepan Allah.

Dengan menyadari sifat Al-Malik milik-Nya kita malu untuk mengatakan bahwa kita punya pangkat dan memiliki semuanya, sehingga kita akan selalu berbagi dengan yang lainnya. Dengan mengetahui sifat Allah Al-Aziz maha agung kita tidak akan meminta dielu-elukan atau dipuji ketika mendapat prestasi, tapi kita akan semakin bersyukur kepada-Nya.

 

  1. Akhlak

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)

 

Husnuzhan dalam pengertian singkatnya adalah berbaik sangka kepada orang lain. Sifat ini bisa dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. Husnuzhan kepada Allah

Husnuzhan kepada Allah artinya berbaik sangka terhadap semua ketentuan yang telah digariskan Allah, dengan mensyukuri semua nikmat dan musibahnya dengan keyakinan bahwa Allah memiliki rencana lebih indah untuk kita.

Sikap yang paling tepat dalam hal ini adalah dengan selalu menghitung nikmat yang kita terima dari Allah, sehingga kita tidak perlu menghitung musibah dan cobaan dari allah, karena nikmat Allah pasti lebih banyak daripada cobaan yang diberikan. Dengan melakukan hal itu secara otomatis rasa syukur kita akan bertambah.

 

  1. Husnuzhan kepada diri sendiri

Manusia adalah tempat salah dan lupa, dan tidak ada manusia yang sempurna adalah ungkapan yang benar menggambarkan kelemahan manusia. Meskipun demikian, kita tidak boleh hanya befokus kepada kekurangan dan kelemahan kita sebagai manusia, karena dengan berfokus pada kelemahan tersebut membuat kita lemah dan lupa bersyukur atas nikmatNya.

Dengan kita bersu’uzhon pada diri kita sendiri dengan selalu focus pada kelemahan kita, maka kita secara sengaja berprasangka buruk pula kepada Allah sebagai pencipta kita. Dengan kita berpikir positif pada diri sendiri, kita akan menanamkan keyakinan yang baik, dengan keyakinan yang baik itu akan muncul tindakan-tindakan yang baik pula.

  1. Husnuzhan kepada sesama manusia

Islam telah mengatur hubungan sosial dengan indahnya yakni dengan anjuran untuk menjaga tali persaudaraan (silaturahmi). Pentingnya silaturahmi digambarkan dalam hadits berikut

 

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, bangkitlah rahim (hubungan kekeluargaan) berkata: Ini adalah tempat bagi orang berlindung (kepada-Mu) dengan tidak memutuskan tali silaturahmi. Allah menjawab: Ya. Apakah kamu senang kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu? Ia berkata: Tentu saja. Allah berfirman: Itulah milikmu. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci. (Shahih Muslim No.4634)

Berdasarkan hadits yang menempatkan pentingnya hubungan sosial (silaturahim) tersebut, salah satu cara yang diperlukan adalah dengan tidak mencurigai orang lain atau berprasangka buruk pada orang lain. Karena dengan prasangka jelek akan membuat kita menuduh orang lain tanpa ada bukti melainkan hanya kecurigaan-kecurigaan yang berasal dari prasangka jelek.

Secara sederhana dapat dikatakan kita harus menjaga silaturahmi dengan orang lain yang salah satu caranya adalah dengan selalu berpikir positif terhadap orang lain, meskipun terkadang hati harus dipaksa untuk bisa melakukannya, karena dengan berpikir positif kita akan merasa lebih senang menjalani hidup. Namun berhusnudzon atau berpikir positif bukan berarti pula tanpa kewaspadaan.

  1. Fiqih
    1. Pengertian, kedudukan dan fungsi Al-Qur’an, Al-hadits dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam
      1. Al Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang merupakan mu’jizat dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk agama Islam, dan apabila dibaca akan menjadi ibadah kepada Allah.

Al-Qur’an menjadi dasar Hukum dalam agama Islam bersumber dari firman Allah dal Q.S.Az-zukhruf : 43

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: “maka berpegangteguhlah kepada apa yang diwahyukan kepadamu”.

Adapun dasar al-qur’an dalam membuat Hukum ada 2, yakni :

  1. Tidak memberatkan

Seperti hukum boleh tidak berpuasa bagi orang yang bepergian, atau boleh bertayammum sebagai ganti wudhu dan boleh menjama’ serta mengqashar sholat.

  1. Berangsur-angsur

Seperti hukum minum minuman keras, pada awalnya hanya disebutkan bahwa dosanya minum khamr lebih berat dari pada manfaatnya (Q.S. Al-baqarah 219) kemudian datang wahyu selanjutnya yang menyatakan bahwa khamr haram sesaat sebelum sholat dan bekasnya harus hilang sebelum shalat (Q.S. AN-Nisa 43) dan disempurnakan dengan wahyu yang berupa larangan keras mendekati khamr dalam Q.S.Al-Maidah ayat 90.

 

  1. Al-Hadits/ Sunnah

Adalah semua perkatan,perbuatan dan keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat sahabat dan ditetapkan nabi, tidak ditegurnya sebagai bukti bahwaperbuatan itu tidak terlarang.

Sunnah ini terbagi menjadi tiga, yaitu : Sunnah Qauliyah (sabda-sabda nabi), Sunnah Fi’liyah (perbuatan nabi) dan Sunnah taqririyah (diamnya rasul atas ucapan atau perbuatan sahabat). Fungsi sunnah menjadi 2, yakni :

  1. Menjelaskan ayat al-qur’an

Misalnya : perintah shalat dan zakat yang dalam al-qur’an masih berupa perintah mengerjakan dan mengeluarkan, sedangkan cara pelaksanaannya tidak disebut. Maka untuk member keterangan tentang pelaksanaannya itu diperlukan penjelasan dari Rasulullah.

  1. Berdiri sendiri didalam menentukan beberapa hukum

Misalnya tentang ibadah-ibadah sunnah yang sering dilakukan nabi namun tidak ada di dalam al-qur’an.

 

  1. Al Ijtihad

Ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menentukan Hukum syara’ dengan jalan memetik/ mengeluarkan dari Kitab dan Sunnah. Syarat-syarat berijtihad :a) mengetahui isi Al qur’an dan hadits yang bersangkutan dengan Hukum tersebut, 2) menguasai bahasa arab beserta alat-alat pendukungnya, 3) menguasai ilmu ushul fiqh dan kaidah-kaidah fiqih seluas-luasnya, 4) mengetahui nasikh mansukh al-qur’an dan hadits, 5) menguasai soal ijma dan pendapat yang bertentangan dengan ijma’ tersebut, 6) mampu membedakan hadits mutawatir, shahih, hasan, dhaif, maqbul dan mardud, 7) menguasai rahasia-rahasia tasri’.

Adapun permasalahan yang diperbolehkan untuk diijtihadkan adalah Hukum-hukum syara’ yang tidak mempunyai dalil qath’I dan bukan terhadap Hukum akal dan permasalahan yang berhubungan dengan ilmu kalam.

 

  1. Pengertian, kedudukan dan fungsi hukum taklifi dalam hukum Islam

Hukum taklifi adalah khitbah Allah atau sabda rasulullah yang mengandung tuntutan, baik perintah maupun larangan. Hukum taklifi ada 5, yaitu :

  1. Ijab (tuntutan yang pasti atau berhukum wajib)
  2. Nadab (Anjuran atau berhukum sunnah)
  3. Tahrim (berupa larangan yang harus dijauhi atau mengharamkan)
  4. Karohah (larangan yang tidak mesti dijauhi atau berhukum makruh)
  5. Ibahah (membolehkan sesuatu untuk dikerjakan atau ditinggalkan dan berhukum mubah)

 

Dalam Hukum Islam Hukum taklifi adalah Hukum yang pasti dan berlaku untuk semua karena dilihat dari sumber hukumnya merupakan 2 sumber Hukum terkuat yakni Al-qur’an berupa khitbah Allah dan Sunnah atau Hadits berupa sabda rasulullah.

 

  1. Penerapan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari

Hukum taklifi dalam penerapannya masih ambigu atau melihat latar belakang dari personal atau individunya, karena Hukum ini tidak terlihat secara nyata, maka tidak jarang manusia menyepelekannya, contohnya minum khamr yang jelas-jelas diharamkan masih banyak yang melakukannya.

Hal tersebut terjadi karena latar belakang keagamaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat masih minim, berbeda apabila kita berbicara Hukum taklifi dengan orang-orang yang latar belakang agamanya kuat, mereka akan lebih memilih melanggar adat ciptaan manusia daripada melanggar Hukum yang telah ditetapkan-Nya.

Pemerintah dalam hal penegakan Hukum taklifi pun tidak bisa berbuat banyak, karena Negara kita bukan Negara agama, akan tetapi Negara pancasila yang mentolerir keberadaan agama lainnya. Pada akhirnya kita sendiri yang harus mempu menegakkan Hukum taklifi dalam pribadi, keluarga dan masyarakat kita sendiri.

 

  1. Tarikh dan kebudayaan Islam
  2. Da’wah Nabi Muhammad periode Makkah

Makkah dipilih nabi sebagai titik awal da’wahnya karena Makkah merupakan tempat kelahiran dan pertumbuhannya. Pada awalnya da’wah nabi dilakukan secara sirri (sembunyi-sembunyi) kuran lebih selama 3 tahun, hal itu dilakukan nabi karena kedudukannya yang masih lemah di masyarakat dan ajaran yang beliau ajarkan sangat bertolak belakang dengan ajaran yang diyakini masyarakat umumnya.

Lapisan pertama yang beliau ajak tentu keluarga dan kerabat dekatnya yang menunjukkan kebaikan pada diri mereka, perjuangan Rasulullah idak sia-sia. Hari pertama berda’wah beliau langsung mendapat kepercayaan dari beberapa orang yang kemudian dikenal dengan assabiqunal awwalun (golongan orang yang pertama masuk Islam), meliputi istrinya Siti Khadijah, Budaknya Zaid bin Haritsah, sepupunya yang masih belia Ali bin Abi thalib dan sahabatnya Abu bakar.

Abu bakar bukan hanya menjadi assabiqunal awwalun saja, akan tetapilangsung mengikuti Rasulullah untuk berd’wah dan salah satu hasinya adalah masuk Islamnya Usman Bin Affan.

Pada masa ini wahyu yang diurunkan Allah berupa wahyu yang pendek-pendek, namun menuntut kebersihan hati dari kooran duniawi, sangat sesuai dengan masa itu yang membutuhkan kelembutan hati dan jiwa. selain itu, wahyu yang diturunkan juga lebih banyak menggambarkan surga dan neraka, sehingga seakan-akan tergambar dengan jelas hal-hal yang membuat mereka merindukan surga dan takut neraka.

Ritual ibadah yang mereka lakukan adalah sholat, namun bukan sholat yang 5 waktu, mereka melakukan sholat padapagi dan sore hari sesuai ketetntuan dari Q.S.Al-Mukmin 55

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ

Artinya :

Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

 

Hal itupun masih dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, namun lambat laun verita itu sampai juga pada orang-orang Quraisy.

Pada awalnya mereka tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah, karena mereka berpendapat apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah untuk meramaikan kegiatan keagamaan. Namun dengan semakin kuat dan luasnya pengaruh Rasulullah di masyarakat, maka orang-orang Quraisy mulai memperhatikan semua yang dilakukan Rasulullah.

 

  1. Strategi da’wah Rasulullah SAW periode Makkah

Pada periode Makkah ini, Rasulullah melakukan strategi da’wah dengan memanfaatkan hubungan kerabat dan saudara dan semuanya dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi sesuai perintah Allah.

Hal tersebut dapat dilihat dari awal da’wah Rasulullah hanya mengundang saudra dekat dengan criteria kebaikan pada diri mereka, kemudian setelah mereka bergabung dengan Rasulullah maka para sahabat yang telah masuk Islam tersebut mengajak sahabat yang lainnya, seperti Abu Bakar mengajak Usman dll.

 

  1. Penutup/ Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa :

  1. Tugas manusia dimuka bumi adalah sebagai khalifah/ pemimpin
  2. Al-Qura’n juga mengajarkan manusia untuk ikhlas dalam melaksanakan ibadah karena Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk beribadah.
  3. Dalam bidang aqidah manusia diharapkan mampu meneladani sifat-sifat allah yang terangkum dalam Asmaul husna
  4. Peranan Prasangka mampu menggerakkan manusia menjadi baik dan buruk baik kepada Allah, diri sendiri maupun kepada sesame manusia. Oleh karena itu Islam telah mengatur bagaimana prasangka itu diatur agar menggerakkan manusia pada hal yang baik.
  5. Fiqih memperkenalkan pada kita berbagai sumber hokum yang ada di Islam, yaitu Al Qur’an, hadits/ sunnah dan Ijtihad, masing-masing dari sumber itu mempunyai dasar yang kuat. Tidak untuk saling menjatuhkan, namun saling memperjelas hokum yang ada.
  6. Hukum yang harus ditegakkan adalah hokum taklifi yaitu hukumyang bersumber dari khitbah Allah dan sabda Rasul-Nya, akan tetapi mengingat Negara kita adalah bukan Negara islam, maka peran serta kita untuk menegakkan hokum taklifi baik pada pribadi, keluarga maupun masyarakat sangat diperlukan.
  7. Da’wah Nabi di Makkah atau yang biasa disebut periode Makkah menggunakan metode sembunyi-sembunyi dan memanfaatkan hubungan keluarga dan kekerabatan untuk penyebarannya, hal tersebut bukan usaha kosong karena dengan metode tersebut muncul golongan yang dikenal dengan assabiqunal awwalun.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s