Dilema pendidikan

UJIAN NASINAL PINTU GERBANG PENGANGGURAN

Oleh: Choirin N. S.

April mendatang Dinas Pendidikan mempunyai gawe besar bahkan gawenya kali ini menjadi gawe nasional, tiga minggu lagi ujian nasional tingkat SMU dilaksanakan, disusul satu minggu kemudian ujian nasional tingkat SMP atau SLTP kemudian giliran tingkat SD, berbagai persiapan dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang akan mengikutinya, mulai dari pemberian pelajaran tambahan, trik menghadapi soal hingga trik ngibulin pengawas untuk memberikan contekan. Namun ada satu hal yang selalu dilupakan oleh sekolah-sekolah tersebut yakni bekal untuk dikemudian hari setelah anak didiknya tak lagi menyandang gelar sebagai pelajar.

Fenomena penambahan pengangguran selalu terjadi manakala ujian nasional sukses dilaksanakan, anak didik lulus dengan sempurna, nama sekolah semakin dikenal dengan suksesnya meluluskan anak didiknya, tetapi apa yang terjadi dengan anak didiknya? Mereka bingung apa yang selanjutnya bakal terjadi. Bagai buah simalakama itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan anak didik, bagaimana tidak buah simalakama, jika mereka tidak lulus mereka harus kembali mengulang sekolah selama setahun yang tentu tidak gratis, tetapi jika mereka lulus? Biaya kuliah yang tidak sedikit membuat para orang tua harus berpikir berulang-ulang, jika tidak kuliah tentu bekerja adalah pelarian terakhir bagi mereka.

Bekerja sebagai pelarian terakhir bagi mereka yang tak mempunyai kesempatan merasakan bangku kuliah adalah pelarian paling aman bagi mereka, daripada menjadi pengangguran yang hanya menjadi sampah masyarakat, tetapi sekali lagi benturan kebutuhan harus dihadapi, ijazah SMU dizaman seperti ini tentu dipandang sebelah mata oleh orang-orang, apalagi pengalaman yang dimiliki tidak mendukungnya, kalaupun akhirnya tidak bekerja mungkin akan terbersit bagi mereka yang mempunyai kemampuan lebih untuk menjadi seorang pendidik, tapi sekali lagi penolakan secara tidak langsung terjadi, bukan oleh pihak yang di didik atau pihak yang di tempati tetapi oleh negara yang mengaharuskan seorang pengajar minimal berijazah S1.

Maka jangan salahkan jika setiap tahunnya tingkat pengangguran yang terjadi semakin tinggi, bukan hanya karena belum adanya penyelesaian tentang pengangguran tahun kemarin, tetapi ditambah lagi munculnya pengangguran-pengangguran baru yang di hasilkan oleh sekolah-sekolah yang berhasil meluluskan anak didiknya, sekalipun mereka tidak berhasil lulus dari ujian nasional tersebut, bukankah sekolah persamaan kian menjamur? Jadi tak luluspun akhirnya bukan menjadi sesuatu yang ditakuti. Maka semakin meriah ujian nasional yang dilaksanakan dan semakin sukses sekolah-sekolah meluluskan anak didiknya dan sekolah persamaan semakin punya nama, maka ucapan selamat bekerja keras dan semoga sukses untuk Dinas Tenaga Kerja patut diucapkan.

Jadi kini pilihan terletak di siapa? anak didikkah? Ataukah lembaga sekolah yang harusnya memberikan sedikit pengalaman dan ketrampilan bekerja untuk anak didiknya agar kelak menjadi sesuatu yang berguna bagi si anak didik, baik untuk mencari suatu pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan suatu lapangan kerja sendiri yang mampu meresap tenaga kerja produktif lainnya, ataukah semuanya terletak pada Dinas Tenaga Kerja yang jarang kita dengar suaranya dalam pemerintahan? Bahkan kita mendengar ada Dinas Tenaga Kerja ketika akan diadakan tes calon pengawai negeri swasta yang dilaksanakan daerah, ada juga kejadian ketika kita meminta kartu kuning sebagai pengangguran kita ditarik biaya, apa mereka belum bisa mikir kalau pengangguran itu belum punya penghasilan, mengapa ditarik biaya?, maka tak heran jika data dinas dengan kenyataan tidak sama, karena setiap pengangguran tentu berpikir jka mendaftar tentu kena biaya, daripada membayar hanya daftar penganguran mending uangnya dipakai sesuatu yang lebih berguna.

Akhirnya semoga kelulusan dari sekolah bukan membuat mereka mengalihkan gelar pelajar menjadi pengangguran, tetapi kululusan tersebut mampu mengalihkan gelar pelajar menjadi pengusaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s