Hambatan dan Tantangan Pendidikan Islam

MAKALAH

 

“HAMBATAN DAN TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM”

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Apabila kita simak dan amati dengan penuh perhatian berbagai peristiwa dalam kehidupan bangsa kita dewasa ini betapa banyak pertanyaan yang muncul. Dari berbagai pertanyaan itu, ada pertanyaan mendasar yang pasti muncul di setiap orang, yaitu “ apa yang sebenarnya terjadi pada bangsa ini ?”, “ apakah asa yang salah sehingga bangsa Indonesia yang dikenal dengan adat ketimurannya degan kesopanan yang unggul kini berubah muka menjadi bangsa yang terkesan kurang beradab?”.

Walaupun pendidikan bukan stu-satunya penyebab dari keadaan bangsa seperti ini, namun system pendidikan yang selama ini kita jalankan mempunyai andil terhadap situasu bangsa kita dewasa ini. Pendidikan sangat menentukan kemajuan dan kejayaan serta peradaban suatu bangsa. Sehubungan dengan itu, pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana kinerjas sisitem pendidikan nasional kita, dan kalau ada upaya yang perlu kita lakukan agar pendidikan dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap masa depa yang lebih baik melalui pembangunan generasi muda yang cerdas, terampil, berbudi pekerti luhur, serta mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap bangsa dan agamanya.

Konsep negara yang dipresentasikan pemerintah mempunyai tugas menciptakan iklim yang kondusif agar keluarga dan masyarakat dapat menjalankan peranya dengan baik akan berlaku bagi konteks membangun generasi muda yang cerdas, dan berbudi pekerti luhur seta mempunyau kepedulian terhadap masa depan bangsa dan agamanya melalui pendidikan. System pendidikan merupakan system yang sangat terbuka. Berbagai factor luar pendidikan yaitu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kinerja system pendidikan.

Perbaikan system pendidikan betaapun mendasarnya, sulit untuk berhasil menghasilkan output yang ideal jika tidak didukung dengan system lain diluar pendidikan yang meliputi system ekonomi, social, budaya, hukm, bahkan politik. Dalam konteks hubungan keluarga, bermasyarakat, dan negara, maka negara mempunyai peran yang sangat menentukan dalam menata seluruh sisitem kenegaraan sehingga system pendidikan dapat berperan menyiapkan generasi muda yang berkualitas. Generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan yang semakin rumit.

BAB II

PEMBAHASAN

 

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang menghadapi gelombang perubahan besar, baik secara internal maupun eksternal. Krisis ekonomi melanda bangsa pada tahun 1997 berkembnag menjadi krisis multidimensi masih belum sepenuhnya bias diatasi.

Secara eksternal, kita pun menghadapi persaingan yang seakin ketat dalam era globalisasi. Globalisasi tidak hanya akan berlangsung daalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya terutama budaya. Globalisasi budaya yang arusnya makin deras akan membawa berbagai perubahan fundamental yanglebih komplkes dibandingkan dengan globalisasi ekonomi. Kompleksitas itu timbul akibat masuknya berbagai budaya dari luar yang berinteraksi secara langsung dengan budaya bangsa kita yang ragamnya begitu besar. Pada gilirannya, transformasi budaya merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dipungkiri. Transforasi tersebut dipercepat oleh perkembangan teknologi. Melalui kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, penetrasi budaya internasional itu semakin luas dan intensif.

Oleh karena itu perjalanan bangsa kedepan akan menghadapi bebragai tantnaagn yang bukan berupa tantangan ekonomi, tetapi juga tanatangan social dan budaya. Adapun tantangan-tantangan tersebut adalah :

  1. Tantangan untuk menguasai dan mengembangkan teknologi

Teknologi merupakan factor yang sangat menentukan daya saing bangsa, karena teknologi menentukan kualitas, produktivitas, dan efisiensi. Teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga seringkali keduanya dilafalkan dalam satu nafas yakni ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Tingkat penguasaan iptek menentukan perbedaan dalam taraf kemajuan dan peradaban bangsa-bangsa di dunia.

Kini iptek berkembang demikian cepat terutama dalam bidang teknologi informasi. Dalam era globalisasi kita tidak mungkin bertahan dan bersaing jika kita tertinggal dala pengauasaan iptek. Kekayaan sumber daya alam yang tersebar didaratan dan lautan sebagai karunia Tuhan YME tidak mungkin dapat dimanfaatkan dengan baik dan lestari tanpa sentuhan teknologi. Itulah tantangan yang kita hadapi. Dalma upaya peningkatan penguasaan teknologi, sehingga bangsa kita mampu menjadi bangsa pencipta teknologi, peranana pendidikan dan penelitian teramat penting.

 

  1. Tantangan menghadapi arus informasi dalam globalisasi

Kemajuan teknologi yang semakin pesat berkembang dalam era globalisasi membuat dunia menjadi semakin terbuka dan memungkinkan derasnya rus pertukaran informasi melalui berbagai media seperti televisi dan internet dalam komputer atau handphone canggih di genggaman kita. Informasi dari berbagai penjuru dunia, baik yang positif maupun negatif, telah menembus bats-bats negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita.

Tidak semua informasi yang masuk itu sesuai dengan ilai-nilai agama dan norma-norma budaya kita, bahkan tidak mustahil banyak yang membahayakan dan mnegancam budaya dan kepribadian luhur bangsa. Ada gejala umum sebagai dampak negatif globalisai yang harus kita waspadai.

Demoralisasi, materialisasi, konsumerisme dan hedonisme serta egoisme dan individualisme makin menggejala bersamaan dengan melemahnya tanggung jawab dan kesetiakawanan social. Semuanya jelas bertentangan dengan moral, agama, dan nilai-nilai budaya bangsa. Sebagian remaja dan pelajr saat ini teah terjangkiti pula oleh perilaku yang menyimpang dan bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berkelanjutan dan meluas akan sangat mengancam masa depan bangsa yang kita cintai.

 

  1. Tantangan menyiasati modernisasi

Proses modernisasi yang paling mendasar adalah modernisasi budaya. Dalam proses ini berlangsung pengenalan dan penyerapan nilai-nilai luar yang bersenyawa dengan nilai-nilai tradisional dan menciptakan nilai-nilai baru

Dengan kondidi budaya masyarakat Indonesia yang begitu beragam proses pembentukan nilai-nilai baru itu tidak berjalan secara sederhana. Sebagian masyarakat kita sudah berada pada era informai, tetapi sebagian besar lagi masih hidup dalam tahap yang masih terbelakang. Secara budaya, bangsa Indonesia juga adalah bangsa yang majemuk dengan beragam suku, bahsa, adta-istiadat, dan agama. Kemajemukan itu disatu sisi merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai dan merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan bangsa, di sisi lain kemajemukan itu juga dapat menjadi potensi kerawanan yang memungkinkan timbulnya perpecahan.

Dalam keadaan demiian, proses perubahan nilai akan menimbulan benturan-benturan dan goncangan-goncangan, bukan saja antara nilai-nilai luar dan nilai-nilai tradisional, tetapi juga antara nilai-nilai yang hidup dalma masyarakat kita sendidiri. Semuanya itu merupakan tantangan yangtidak dapat dihindari dan harus kita atsai dengan pendekatan yang tepat.

 

  1. Tantangan untuk mengatasi kesenjangan

Pembangunan yangtelah dilaksanakan selama ini, selain menghasilkan kemajuan, namun masih menyisakan kesenjangan baik anatar kelompok ekonomi, antar daerah dan anatarsektor. Dalam era yang makin terbuka dan bebas, potensi kesenjangan akan semakin besar, karena kemampuan untuk memanfaatkan peluang tidaklah sama, bahkan masih banyak masyarakat yangberkemampuan rendah karena rendahnya tingkat pendidikan. Kesenjangan ekonomi yang ditunjukkan dengan tingkat kesejahteraan yangjauh berbeda antar satu kelompok dengan kelompok yang lain dapat memicu terjadinya konflik social. Oleh karena keberpihakan kepada yang lemah harus senantiasa ditumbuhkan. Agama Islam yang berprinsip pada keadilan social mengajarkan hal tersebut. Bahkan menggolongkan seseorang yang tidak memperhatikan dan membantu yang lemah sebagai orang yang mendustakan agama.

                 

 

Perlunya Sumberdaya Manusia Berkualitas

Demikian secara ringkas beberapa tantangan yang akan dihadapi di mas depan. Berbagai tantangan itu harus kita hadapi untuk mewujudkan masa depan bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wujud masa depan seperti itu jelas tidak akan terjadi dengan sendirinya karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (bangsa) tanpa niat, tekad, dan upaya yang kuat dari bangsa itu sendidri untuk merubah nasibnya.

Berbagai kecenderungan masa depan itu menntut kita untuk membangun sumberdaya manusia berkualitas dengan menyiapkan generasi muda yang cerdas, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia serta mempnyai kepedulian terhadap masa depan bangsa. Generasi muda yang mempunyai daya tembus dan daya tangkal yang kuat karena kemampuan iptek yang andal, keimanan dan ketaqwaan yang kukuh, etos kerja dan daya juang yang tinggi, serta tanggung jawab kemasyaraktan dan kebangsaan yang tinggi pula. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alamnya saja tanpa meningkatkan kualitas semberdaya manusianya, tisak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Sebaliknya, negara yang sumber daya alamnya terbatas tetpai mempunyai sumberdaya manusia yang berkualitas dapat menjadi negara yang maju dan mandiri. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, dengan demikian merupakan suatu prasayarat keharusan yang perlu kita wujudkan. Jika itu tidak terpenuhi, dalam era yang pebuh persaingan, kita akan terlempar ke pinggir, dan bahkan kita akan menjadi orang asing di tanah air kita sendiri. Na’udzu billahi min dzalik

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dilakukan utamanya melalui pendidikan. Melalui pendidikan sebagai proses budaya dan proses pembentukan karakter akan tumbuh dan berkembang generasi yang mempunyai kematangan intelektual, emosional, spiritual dan moral. Melalui pendidikan akan tumbuh generasi muda yang cerdas, berbudi pekeri luhur serta mempunyai tanggung jawab kebangsaan yang tinggi. Generasi muda yang diperlukan bangsa, juga adalah generasi muda yang sehat sehingga mampu berkiprah secara kreatif dan produktif bagi kemajuan masyarakat dan bangsanya.

Menyiapkan generasi muda dengan kualitas seperti itu dilakukan sejak dini bahkan sejak manusia masih berupa janin dalam rahim seorang ibu. Pendidikan yang dilakukan, bukan hanya pendidikan dalam arti sempit di sekolah, tetapi juga dalam arti yang lebih luas mencakup pendidikan dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, keluarga dan masyarakat serta lingkungannya mempunyai peran yang pentingg. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama. Pendidikan di lembaga formal akan berhasil baik jika seorang anak telah dididik dengan baik oleh keluarganya. Sebagaimana disebutkan terdahuku, system pendidikan merupakan system yang terbuka. Berbagai factor di luar system pendidikan meliputi system ekonomi, social, budaya, hokum, hankam dan politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kinerja dan output system pendidikan.

System pendidikan nasional adalah suatu system yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh factor eksternal disamping factor internalnya. Seringkali justru factor eksternal itu ysng tidak mendukung, bahkan merusak. Tayangan di TV misalnya. Banyak tayangan yang bertentangan dengan nilai moral dan susila.

Kemudian, factor lain misalnya transportasi dan lalu lintas di jalan tanpa adanya fasilitas yang khusus untuk pelajar juga akan mempersulit dalam mencapai tujuan pendidikan. Misalnya dalam kendaraan umum pelajar harus berdesakan dan mengenal kata-kata kotor dari lingkungan transportasi tersebut, nilai tersebut sangat berbeda dengan yang mereka terima di sekolah, yang pada akhirnya membingungan pelajar tersebut.

 

PERAN PEMERINTAH

Pemerintah sebagai representasi negara mempunyai kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka membangun bangsa yang bermartabat. Dalam kaitannya dengan UUD 1945 pasal 31 mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdasskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang; (4) negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; (5) pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Selanjutnya, undang-undang no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 11 menyatakan : (1) pemerintah dan pemerintah daerah wajib membrikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi; (2) pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

Berkenaan dengan pembiayaan, UU sisdiknas menegaskan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sector pendidikan dan minimal 20% dari APBD (pasal 49 ayat 1).

Berdasarkan ketentuan perundangan tersebut, pemerintah mempunyai kewajiban mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu pemerintah pusat dan daerah harus menyediakan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan.

Menyelenggarakan system pendidikan yang berkualitas dapat diartikan tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan pendidikan itu sndiri tetapi juga menciptakan iklim yang mendukung terselenggaranya system pendidikan tersebut guna mencapai tujuannya yaitu menyiapkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mempunyai kepedulian terhadap masa depan bangsa. Menciptakan iklim yang mendukung dilakukan melalui pengaturan (regulasi) dan penyediaan fasilitas.

Karena keberhasilan system pendidikan tidak hanya ditentukan oleh system pendidikan itu sendiri akan tetapi ditentukan oleh berbagai factor lain diluar system pendidikan, maka pengaturan terhadap factor diluar system pendidikan itu pun menjadi sangat penting. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pengaruh media komunikasi dan informasi bias sangat berpengaruh, maka pememrintah mempunyai kewajiban dan peran dalam membuat aturan agar tayangan, penyiaran dan penyebaran informasi di media tersebut tidak mengakibatkan rusaknya atau terganggunya proses pendidikan, baik formal di sekolah maupun informal dalam keluarga.

Peran pemerintah dilakukan dalam beberapa hal, antara lain sebagai berikut :

  1. Merumuskan dan menetapkan peraturan perundangan yang memungkinkan penyelenggaraab program pendidikan dapat mencapai tujuannya.
  2. Merumuskan dan menetapkan peraturan perundangan yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan yang adil, luas dan berkualitas.
  3. Menyelaraskan berbagai program pembangunan guna mendukung terselenggaranya pendidikan berkualitas.
  4. Menetapkan kebijakan fiscal yang berpihak kepada peningkatan dan perluasan pendidikan yang berkualitas.
  5. Menyediakan tenaga, sarana dan prasarana pendidikan yang memadai baik dalam jumlahmaupun mutunya
  6. Memberikan kemudahan bagi berkembangnya peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan berkualitas.
  7. Membangun kemitraan yang sinergik dengan masyarakat dan dunia usaha (public – private partnership)
  8. Memberikan kemudahan agar masyarakat mempunyai keberdayaan untuk menjangkau pendidikan yang berkualitas
  9. Menciptakan system pemerintahan yang baik (good govermant)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Generasi yang cerdas, berkhlak mulia dan mempunyai kepedulian terhadap bangsa diperlukan unutk membangun bangsa yang dewasa ini sedang menghadapi berbagai persoalan yang rumit baik secara internal maupun eksternal yang bersifat global. Pembangunan generasi muda berkualitas dilakukan utamanya melalui pendidikan baik formal di sekolah maupun informal di dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pendidik itu sendiri tetapi juga oleh banyak factor lain di luar pendidikan yang meliputi seluruh sector kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, pemerintah mempunyai peran yang sangat menentukan, karena pemerintah adalah representasi negara. Kewajiban pemerintah, pusat maupun daerah yang berkaitan dengan peneyelnggaraan pendidikan (formal dan informal) telah diatur dalam konstitusi UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah mempunyai peran utama sebagai regulator dan fasilitator yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan yang adil, luas dan bermutu. Betapapun hebatnya kemampuan para pemimpin bangsa, untuk mengemban amanah besar membangun generasi muda berkualitas itu tidaklah mungkin berhasil dengan baik tanpa adnya kepercayaan (trust) dan dukungan dari segenap masyarakat. Dengan demikian, perlu dibangun kemitraan yang sinergik antara pemerintah dan msyarakat termasuk dunia usaha.

 

Iklan

Makalah ayat-ayat tentang adat dan tradisi

MAKALAH AYAT-AYAT PENDIDIKAN

 “Tradisi Dzikir Kaum Nahdliiyin”

  1. I.       Pendahuluan

Sering kita menghadiri pemakaman yang kemudian diumumkan jam pelaksanaan tahlilan selama 7 hari untuk mendoakan sang jenazah. Hal tersebut masih menjadi perdebatan diantara umat Islam, ada yang sebagian mengatakan bid’ah karena tidak dilakukan pada zaman rosulullah, namun ada yang mengatakan boleh karena niat dan tujuannya baik.

Salah satu golongan yang memperbolehkan, bahkan menjadi amalan (seperti wajib) adalah golongan yang menyebut dirinya kaum Nahdliyin. Mereka mempunyai berbagai dasar yang menjadikan tahlil sebagai suatu tradisi bahkan cirri khas mereka. adapan dasar-dasar tersebut akan diuraikan dalam pembahasan.

 

  1. II.    Pembahasan

Ada beberapa golongan yang mengatakan bahwa tahlil adalah bid’ah karena tidak dilakukan oleh rosulullah dan merupakan ajaran tinggalan agama Hindu dan Budha, namun sebagaian laian (kaum Nahdliyin) melaksanakannya, bahkan menjadi cirri khasnya.

Apabila ditilik dari sejarah bangsa Indonesia memang dahulu sebagaian besar kerajaan-kerajaan besar adalah menganut agama Hindu dan Budha, bahkan ada yang hanya Animisme dan Dinamisme. Namun, kita juga tidak boleh lupa bahwa walisongo dalam Da’wah Islamnya mempadupadankan dengan berbagai budaya yang ada di daerah tersebut.

Hal tersebut dilakukan karena Islam merupakan agama yang halus bukan dengan Da’wah pertumpahan darah yang selama ini diyakini golongan Non-Muslim. maka terciptalah wayang dan lain-lain. hal tersebut merupakan tradisi non- Muslim, yang diakulturasikan dengan ajaran-ajaran Islam. maka, bolehlah bagi kaum selain Nahdliyin mengatakan bahwa tahlil merupakan tinggalan ajaran Hindu dan Budha, namun perlu di ingat pula, bahwa hal tersebut telah dirubah dengan berbagai ajaran Islam.

Adapun dasar-dasar yang bias digunakan untuk membenarkan pelaksanaan tahlil adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

  1. Hadits Tentang Keutamaan majelis zikir
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit. Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. Beliau melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka. (Shahih Muslim No.4854)

 

Dari hadits tersebut saja sudah terlihat, betapa Allah dengan gampangnya mengampuni orang yang penuh dosa hanya karena orang tersebut mau memohon ampun dalam majelis zikir.

pada prinsipnya tujuan zikir dan tahlil adalah sama, yakni mengingatNya, mengagungkanNya, memohon perlindungan dan memohon ampunanNya. Jadi, dengan hadits ini harusnya para penentang tahlil tahu bahwa yang mereka pertentangkan adalah sama-sama mereka kerjakan.

Ada pula dasar lain yang menguatkan posisi Tahlil sebagai amalan umat Islam:

 

  1. B.     Keutamaan membaca tahlil, membaca tasbih dan berdoa
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan. Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu. Barang siapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya”, sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. (Shahih Muslim No.4857)
  • Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:
    Dari Nabi saw., beliau bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, sebanyak sepuluh kali, maka dia laksana orang yang telah memerdekakan empat orang budak dari putra Ismail. (Shahih Muslim No.4859)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Dua kalimat yang ringan untuk diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu: “Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci

 

Hadits-hadits tersebut memberikan pancingan kepada umat Islam agar senantiasa mengingatNya, dengan berbagai limpahan pahala dan jaminan kenikmatan surgawi yang kekal. Maka bagi orang-orang yang masih mempertentangkan keberadaan tahlil disekitar kita, hendaknya mempertimbangkan kembali tindakannya. bukankah semuanya pada intinya pada satu point yakni Allah.

 

  1. C.    Hadits Tentang Doa ketika tertimpa kesusahan
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
    Bahwa Nabi saw. ketika tertimpa Kesusahan, beliau berdoa: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Yang Memiliki Arsy nan Agung, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan segenap langit, Tuhan bumi serta Tuhan Arsy nan Mulia”. (Shahih Muslim No.4909)

 

Hadits tersebut memperlihatkan sisi kemanusiaan Rasulullah, apabila dalam kesusahan beliau juga berzikir, bahkan malah memperbanyak zikir tersebut. seperti ketika beliau di tinggal 2orang yang paling beliau sayanagi Istri dan pamannya) beliau sedih, tapi Allah menghiburnya dengan memberikan hadiah terbesar yakni Isro’ Mi’roj. Perbedaan dengan kita adalah apabila rasulullah dihibur langsung oleh Allah, kalau kita sesame manusia dan salah satu caranya yakni dengan membacakan tahlil dengan tujuan mengingatkan kepada yang ditinggalkan bahwa semuanya akan kembali padaNya.

 

 

 

 

 

  1. III.  Kesimpulan

Pelaksanaan tahlil yang terjadi dimasyarakat telah menjadi adat atau tradisi khususnya kaum Nahdliyin, karena beranggapan bahwa tahlil merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Rabbnya dan memberikan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan si mayit dengan memberikan ilmu bahwa segala sesuatu didunia akan kembali padaNya, hal tersebut dilaksanakan dengan berbagai dasar hadits rasulullah. Namun ada sebagian kelompok Islam yang tidak membenarkan hal tersebut dengan alasan bid’ah atau merupakan ajaran peninggalan Hindu dan Budha.

 

 

 

Sumber Hadits : http://hadith.al-islam.com/bayan/Tree.asp?Lang=IND

 

.:: HaditsWeb ::.

 

tasawuf

Bab II

Maqamat dan Ahwal

 

  1. A.    Maqamat

Seseorang sebelum menjadi sufi terlebih dahulu ia harus menempuh beberapa disiplin kerohanian dalam berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu yang disebut maqam (stasion). Maqamat adalah bentuk jama’ dari maqam yang mengandung arti tingkatan-tingkatan hidup sufi yang telah dicapai oleh para sufi untuk dekat pada Tuhan.

Menurut Abu Nasr Al-Sarraj ada 7 maqam yang harus ditempuh oleh para sufi, yaitu : taubat, wara’, zuhud, kefakiran, kesabaran, tawakkal, dan keridhaan. Sedangkan menurut Al-Kadabzi yang harus ditempuh ada beberapa maqam, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, tawadlu’, takwa, tawakkal, ridha, mahabbah dan ma’rifat. Berikut akan dijelaskan 7 tingkatan sufi menurut Abu Nasr Al-Sarraj.

 

  1. Taubat

Para sufi sepakat menempatkan taubat sebagai stasion pertama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Taubat menurut Ibn hamdan adalah kembali dari sesuatu yang diketahui tercela kepada sesuatu yang terpuji, sedangkan Al-Gahzalli menyebutkan taubat adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. Pendapat lain oleh Imam Haramain tentang taubat sebagai suatu keinginan untuk meninggalkan dan tidak ingin kembali melakukan kejahatan yang sama karena membesarkan Allah dan menghindari kemurkaanNya.

Taubat yang dimaksud dalam sufi adalah taubat yang sebenar-benarnya, taubat yang tidak akan kembali berbuat dosa. Terkadang taubat tidak dapat dicapai dengan sekali langkah, akan tetapi perlu berulang dan istiqomah. Taubat bukan hanya sebagai penghapus dosa, tapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepadaTuhan, dengan demikian calon sufi harus benar-benar bersih dari dosa.

 

  1. Zuhud

Zuhud artinya meninggalkan dunia dan hidup kematerian, bukan saja dari yang haram, tetapi juga yang halal. Bagi seorang sufi, zuhud merupakan station penting yang harus dilalui, tanpa jalan zuhud calon sufi tidak akan mencapai derajat sufi. Ahmad bin Hambal membagi zuhud menjadi tiga macam, 1) zuhud awam dengan meninggalkan yang haram, 2) zuhud orang khowas dengan meninggalkan yang halal dan 3) zuhud orang arif dengan meninggalkan apa saja yang akan menghalanginya dari Allah.

 

 

  1. Wara’

Menurut Abu Zakaria al-Anshari wara’ adalah menjauhkan diri dari syubhat dan dari yang tidak membawa kebaikan dalam kehidupan agama walaupun halal. Imam Al-Qusyairimengutip perkataan Ibrahim bin Adham mengatakan bahwa wara’ adalah meninggalkan syubhat dan segala yang bukan kepentingannya, yaitu segala yang berlebih-lebihan.

Dilihat dari jenisnya wara’ terbagi menjadi dua, yakni wara’ lahir dan wara’ batin. Wara’ lahir adalah tidak menggerakkan anggota tubuh, melainkan hanya untuk sesuatu yang diridhoi Allah. Sedangkan wara’ batin adalah tidak memasukkan kepada ingatan dan kenangan kecuali kepada Allah.

Al-Sarraj membagi wara’ menjadi tiga tingkatan : 1) memelihara diri dari yang syubhat, 2) memelihara diri dari yang halal yang akan membawa kepada maksiat dan 3) memlihara diri dari sesuatu yang halal yang akan membawa lupa kepada Allah. Dengan wara’ seorang sufi dapat menghilangkan segala rintangan yang akan menghalangi diri dari dekat kepada Allah.

 

  1. Fakr

Fakr adalah berhajat kepada sesuatu, menurut Ibnu Qudamah dan Al-ghazali fakir adalah orang yang selalu berhajat kepada Allah dan selalu memerlukan kemurahanNya. Menurut Al-ghazali sifat ini merupakan sebagaian sifat iman dan buah ma’rifat yang mendalam sehingga dalam pandangan hati si fakir merasakan bahwa ia selalu berhajat kepada Allah. Hal ini dijelaskan dalan Al-Qur’an surat Al-Fathir ayat 15.

Orang sufi tidak menolak menerima pendirian dan bantuan orang lain, namun menerima pendirian dan bantuan merka memperhatikan tiga hal. Pertama, benda yang diberikannya apakah halal, haram atau syubhat. Kedua, si pemberi tidak mempunyai tujuan untuk keuntungan atau kepentingan seendiri. Ketiga, tujuan pemberian hanyalah mengharap pahala dari Allah.

 

  1. Sabar

Sabar menurut Abu Zakaria Al-Anshari merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenangi atau yang dibenci. Menurut Qasim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat. Sedangkan menurut Al-Ghazali sabar adalah sebuah kondisi jiwa dalam mengendalikan nafsu yang terjadi kaena dorongan agama. Al-Ghazali membagi sabar menjadi 3 tingkatan, yaitu :

  1. Sabar tertinggi, yaitu sifat yang mampu menghadapi semua dorongan nafsu sehiungga nafsu benar-benar dapat ditundukkan seperti diterangkan dalam Q.S.Muhammad ayat 31
  2. Sabar orang-orang yang sedang dalam perjuangan. Pada tahap ini terkadang mereka dapat menguasai hawa nafsu, tetapi terkadang mereka dikuasai hawa nafsu, sehingga bercampur aduk antara yang baik dan yang buruk, seperti disebutkan dalam Q.S.Al-furqon ayat 44.
  3. Tinngkatan terendah, yaitu sabar karena kuatnya hawa nafsu dan kalahnya dorongan agama. Seperti dijelaskan dalam firman Allah Q.S.As-Sajdah ayat 13.

 

  1. Tawakkal

Tawakkal berarti keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain. Dalam dunia tasawuf tawakkal dapat dipahami sebagai sikap mental seorang sufi, merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat sepenuhnya kepada Allah, karena keyakinannya ini mendorong seorang sufi menyerahka urusannya kepada Allah, maka hatinya tenang, tentram dan tidak timbul rasa curiga.

Tawakkal terdiri dari 3 tingkatan. Pertama, tingkat bidayah (pemula) yakni tawakkal pada tingkat hati yang selalu merasa tentram terhadap apa pun yang sudah dijanjikan Allah. Kedua, tingkat mutawastika (pertengahan) yakni tawakkal kepada allah karena yakin bahwa allah mengetahui keadaan dirinya. Ketiga, tingkat nihayah (terakhir) yakni tawakkal pada tingkat terjadi penyerahan diri seorang sufi pada ridha atau merasa lapang menerima segala ketentuan Allah. Tawakkal ini menyerah seutuhnya kepada Allah.

 

  1. Ridha

Ridha menurut Al-Qushairi adalah tidak menentang apa yang telah ditetapkan Allah, sedangkan menurut Ibn Khaff ridha adalah tenangnya hati dalam menghadapi ketentuan-ketentuan Allah. Rabi’ah Al-Adawiyah mengatakan bahwa yang disebut ridha adalah ketika mendapat bencana, perasaan cinta kepada allah sama seperti pada saat mendapat nikmat.

Ridha pada mulanya merupakan penemuan jiwa yang diperoleh melalui usaha manusia, sedangkan terciptanya ridha semata-mata karena karunia allah yang diberikan kepada seseorang yang dikehendaki dengan ridhaNya, sebagaimana dalam surat Al-Bayyinah ayat 8.

 

  1. B.     Ahwal

Ahwal merupakan bentuk jama’ dari hal yaitu sikap Rohaniah seorang sufi dalam perjalanan tasawufnya. Perbedaan antara maqam dan hal terletak pada sumbernya, apabila maqam didapat manusia melalui usaha yang sungguh-sungguh dan latihan terus menerus, maka hal merupakan anugerah Allah bagi yang dikehendakiNya. Ahwal banyak macamnya, diantaranya adalah :

  1. Khauf

Khauf artinya merasa takut, khauf yang dimaksud dalam tasawuf adalah takut kepada Allah, takut karena siksaNya. Abu Al-Kasim Al-Hakim mengatakan seseorang yang takut kepada sesuatu selain allah akan lari dan menjauhi sesuatu yang ditakutinya, tetapi apabila seseorang itu takut kepada Allah maka ia justru akan mendekatiNya dan semakin bertambah taat dan patuh kepada perintahNya,

Al-ghazali membagi khauf menjadi dua macam, yaitu khauf karena kehilangan nikmat dan khauf karena siksaan.

  1.  

Tasawuf

Bab I

Pendahuluan

 

  1. A.      Pengertian dan Tujuan Tasawuf

Tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti bersih. Adapula yang mengatakan tasawuf berasal dari shufi yakni kain yang dibuat dari bulu (wool) dan kaum sufi memiliki kain wool yang kasar sebagai symbol kesederhanaan. Para ahli berbeda pendapat dalam memberikan pengertian tasawuf, bergantung dari sudut pandang yang mereka gunakan. Menurut J.S.Trimingham menyatakan tasawuf adalah (mistisme) suatu cara khusus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menggunakan intuisi dan kemampuan spiritual dengan tetap memperhatikan petunjuk yang digariskan dalam agama.[1] Sedangkan Harun Nasution mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana orang Islam dapat sedekat mungkin dengan Allah agar memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan bahwa seseorang betul-betul berada di hadirat Tuhan.[2]

Tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.

 

  1. B.       Latar Belakang Munculnya Tasawuf

Khalwat Rasulullah di Gua Hira merupakan cahaya utama bagi nur tasawuf sekaligus benih pertama bagi kehidupan ruhaniah. Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama hayat Nabi Muhammad SAW segenapperilaku beliau menjadi tumpuan perhatian masyarakat karena segala sifat terpuji terhimpun padadiri beliau. Amal ibadah beliau tiada bandingannya, Rosulullah adalah orang pertama yang memberkan contoh hidup sederhana, menerima apa adanya dan menjadikan kehidupan rohani lebih tinggi ketimbang hidup matrealistis penuh kemewahan. Beliau pula yang pertama kali mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta Allah SWT, hidup kerohanian adalah mendekatkan diri kepada Allah.

Pola hidup dan kehidupan Rosulullah yang sangat ideal itu menjadi suri tauladan bagi para sahabatnya. Sesudah Nabi Muhammad SAW wafat, kaum muslimin pun terpecah belah, lambat laun muncul beragam sekte atau aliran. Secara garis besar merkea terbagi menjadi dua, yakni Sunni yaitu pengikut para khalifah dan sunnah nabi dan Syi’ah yaitu golongan yang mengagungkan Imam Hasan putra sayyidina Ali r.a. Selain itu, pemerintahan pada decade Muawiyah sangat mengagungkan kemewahan, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan gaya hidup yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dengan alasan tersebut seorang tokoh muslim yang bernama Abu Dzal Al-Ghifani dengan berlandaskan pada Q.S. At-Taubah ayat 34 berani menentang Muawiyah. Atas sikap tersebut muawiyah menjadi geram dan menuduh abu Dzal sebagai pembangkang yang akhirnya ia diasingkan ke sebuah dusun yang bernama Rizbah. Dari peristiwa inilah mulai muncul golongan zahid yang mengutamakan hidup kebatinan dan kerohanian.

 

  1. C.      Sumber Ajaran Tasawuf

Banyak dalil atau dasar dari Al-Quran dan Hadits yang menjelaskan tentang ajaran Tasawuf, salah satu salah satunya adalah Q.S. Al-baqarah ayat 186

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

 

 

 

 


[1] J.S.Trimingham, The Sufi Orders Indonesia Islam, London: Oxford University press, 1973, Hlm 1

[2] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973, Hlm 57

MATERI KIMIA SMA -ASAM BASA

Teori Asam Basa

  1. A.    Pengertian

Asam dan basa menurut Arrheniusa. Asam merupakan suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion (H+) bila dilarutkan dalam air. Basa merupakan suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion OH– bila dilarutkan dalam air.

Asam dan basa menurut Bronsted-Lowry Asam merupakan senyawa yang dapat memberikan proton (H +) basa merupakan senyawa yang dapat menerima proton (H+).

Asam dan basa menurut Lewis Asam merupakan senyawa yang dapat menerima pasangan elektron bebas. Basa merupakan senyawa yang dapat memberi pasangan elektron bebas.

Asam dikelompokkan menjadi asam monoprotik, diprotik, dan triprotik. Basa dikelompokkan menjadi basa monohidroksi dan polihidroksi. Dilihat dari kekuatannya, asam dan basa ada yang bersifat lemah dan kuat.

  1. B.     INDIKATOR ASAM BASA

Dalam kehidupan sehari-hari akan ditemukan senyawa dalam tiga keadaan yaitu asam, basa, dan netral. Ketika mencicipi rasa jeruk maka akan terasa asam karena jeruk mengandung asam. Sedangkan ketika mencicipi sampo maka akan terasa pahit karena sampo mengandung basa. Namun sangat tidak baik apabila untuk mengenali sifat asam atau basa dengan mencicipinya karena mungkin saja zat tersebut mengandung racun atau zat yang berbahaya. Sifat asam dan basa suatu zat dapat diketahui menggunakan sebuah indikator.

Indikator yang sering digunakan antara lain kertas lakmus, fenolftalein, metil merah dan brom timol biru. Indikator tersebut akan memberikan perubahan warna jika ditambahkan larutan asam atau basa. Indikator ini biasanya dikenal sebagai indikator sintetis. Dalam pembelajaran kimia khususnya materi asam dan basa indikator derajat keasaman diperlukan untuk mengetahui pH suatu larutan. Karena itu setiap sekolah seharusnya menyediakan indior sintetis untuk percobaan tersebut. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua sekolah mampu menyediakan indikator sintetis. Oleh karena itu diperlukan alternatif lain sehingga proses pembelajaran tetap berjalan lancar indikator pH sintetis dapat diganti dengan alternatif lain berupa indikator pH dari bahan-bahan alam atau tanaman.

Indikator pH dari bunga tapak dara (Vinca Rosea U), bunga jengger ayam (Celosia Cristata L), dan bunga tembelekan (Lantara Camara L) dengan didasari pemikiran bahwa zat warna pada tanaman merupakan senyawa organik berwarna seperti dimiliki oleh indikator sintetis, selain itu mudah dibuat juga murah karena bahan-bahannya mudah didapat serta menambah pengetahuan tentang manfaat bunga tapakdara, jengger ayam dan tembelekan. Karakteristik bunga yang baik digunakan sebagai indikator pH yaitu bunga yang masih segar berwarna tua digunakan hanya mahkota bunga sedangkan benang sari dan putik tidak digunakan. Berikut ini penjelasan tentang indikator asam-basa buatan dan indikator asam-basa alami

LUMUT KERAK

Sebenarnya, untuk mengetahui asam atau basanya suatu zat dapat dicicipi dengan menggunakan lidah. Akan tetapi, perlu kita ingat juga bahwa tidak semua zat aman bagi tubuh kita. Masih ingatkah kalian bahwa ada bahan kimia yang bersifat racun?

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka untuk keperluan eksperimen, para ilmuan menciptakan lakmus. Lakmus adalah sejenis zat yang di peroleh dari jenis lumut kerak/liken (Rocella tinctoria), suatu simbiosis jamur dan alga. Lakmus yang banyak digunakan dalam laboratorium-laboratorium kimia sekarang ini tersedia dalam bentuk kertas. Sebagai indikator asam-basa, lakmus memiliki beberapa kelebihan antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Lakmus dapat berubah warnanya dengan cepat saat bereaksi dengan asam maupun basa. Warna yang terjadi pada lakmus dapat terlihat jelas. Lakmus akan berwarna merah dalam larutan asam dan akan berwarna biru dalam larutan basa.
  2. Lakmus sukar bereaksi dengan oksigen dalam udara bebas, sehingga dapat bertahan lama.
  3. Lakmus mudah di serap oleh kertas, sehingga di gunakan dalam bentuk kertas lakmus (agar zat lebih mudah meresap)

Kertas lakmus jenisnya ada dua, yaitu kertas lakmus merah & kertas lakmus biru.

Semua zat tergolong asam apabila :

  1. lakmus biru berubah menjadi merah, atau
  2. lakmus merah tidak berubah warna

Semua zat tergolong basa apabila :

  1. lakmus merah menjadi biru, atau
  2. lakmus biru tidak berubah warna

Indikator Asam Basa

Nama Indikator

Dalam Basa

Dalam Asam

Lakmus
Metil merah
Fenolftalen
Brom timol biru

biru
kuning
merah
biru

merah
merah
tak berwarna
kuning

Di samping menggunakan indikator buatan, seperti lakmus, fenolftalen, metil merah dan brom timol biru, kita juga dapat mengenali senyawa asam atau basa dengan menggunakan indikator alami, seperti bunga sepatu, bunga hidrangea, kol merah, kunyit dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Indikator asam-basa yang baik adalah zat warna yang memberi warna berbeda dalam larutan asam dan larutan basa. Bagimanakah cara membuat indikator alami? Di bawah ini, beberapa cara pembuatan indikator alami dengan menggunakan bunga sepatu, bunga hidrangea, kol merah dan kunyit

1. Cara pembuatan indikator alami dari bunga sepatu

    1. Pilihlah beberapa helai mahkota bunga berwarna merah dari bunga sepatu.
    2. Gerus dalam lumpang dengan sedikit air.
    3. Saring ekstrak mahkota bunga merah tersebut.
    4. Teteskan ekstrak mahkota bunga ke dalam:

1)      Air suling (netral)

2)      Larutan cuka (asam)

3)      Air kapur (basa)

    1. Catat hasil perubahan warna yang terjadi

Indikator asam-basa dari bunga sepatu, ketika didalam larutan asam akan memberikan warna merah, di dalam larutan basa akan memberikan warna hijau dan pada larutan netral tidak berwarna.

2. Cara pembuatan indikator alami dari bunga Hidrangea

    1. Pilihlah beberapa helai mahkota bunga Hidrangea
    2. Gerus dalam lumpang dengan sedikit air.
    3. Saring ekstrak mahkota bunga Hidrangea tersebut.
    4. Teteskan ekstrak mahkota bunga ke dalam:

1)      Air suling (netral)

2)      Larutan cuka (asam)

3)      Air kapur (basa)

    1. Catat hasil perubahan warna yang terjadi

Indikator asam-basa dari bunga Hidrangea akan memberikan warna biru ketika didalam larutan asam , di dalam larutan basa akan memberikan warna merah jambu dan pada larutan netral tidak berwarna

3. Cara pembuatan indikator alami dari kol merah

    1. Haluskan sejumlah kol merah yang masih segar
    2. Rebus selama 10 menit
    3. Biarkan air kol merah menjadi dingin
    4. Saring dalam stoples besar
    5. Teteskan ekstrak kol merah ke dalam:

1)      Air suling (netral)

2)      Larutan cuka (asam)

3)      Air kapur (basa)

    1. Catat hasil perubahan warna yang terjadi

Indikator asam-basa dari kol merah akan berubah warna menjadi merah muda bila dicelupkan ke dalam larutan asam, menjadi hijau dalam larutan basa, dan tidak berwarna pada larutan netral.

4. Cara pembuatan indikator alami dari kunyit

    1. Parut kunyit yang telah dibersihkan
    2. Saring ekstrak kunyit dengan alkohol menggunakan kain ke dalam mangkok kecil
    3. Teteskan ekstrak kunyit ke dalam:

1)      Air suling (netral)

2)      Larutan cuka (asam)

3)      Air kapur (basa)

    1. Catat hasil perubahan warna yang terjadi

Indikator asam-basa dari kunyit, akan memberikan warna kuning tua ketika dilarutkan dalam larutan asam, memberikan warna jingga di dalam larutan basa dan memberikan warna kuning terang pada larutan netral.

peran ilmu pengetahuan

MAKALAH

 

“PERAN ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI PILAR PENEGAK PERADABAN KAUM MUSLIM”

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam

Oleh Prof. DR.H. Thoha Hamim, MA

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Indah Masruroh

Khoirin Nikmatus S

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM (UNIPDU)

JOMBANG

2009

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Peradaban Islam dan kebudayaan Yunani merupakan dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan. Hal tersebut termaktub dalam buku seorang kristen Arab, Jamil Shaliba yang berjudul al-Falsafah al-Arabiyyah. Pilar-pilar peradaban Islam yang berhasil melahirkan filsuf, dokter, astronom, ahli matematika hingga hukum berkelas dunia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jasa-jasa ilmuan yang berasal dari kebudayaan pra-Islam, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan India.

 Berangkat dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa kebudayaan Yunani telah memberikan andil yang sangat besar bagi bangunan peradaban Islam klasik. Dan pada wilayah peradaban Islam bidang filsafat. Filsafat sebagai khazanah Islam telah membuktikan diri sebagai lokomotif utama bagi gerakan pengetahuan yang kemudian menjadi fondasi bagi peradaban Islam. Keterbukaan umat Islam terhadap khazanah klasik pra-Islam memberikan ruang bagi proses penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India. Proses penerjemahan ini memiliki pengaruh pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan pengetahuan dalam dunia Islam. Filsafat dalam hal ini menjadi bidang yang cukup digandrungi oleh sebagian intelektual Islam pada masa itu.

 Lantas bagaimanakah proses penyebaran dan pembentukan filsafat dalam dunia Islam? Filsafat yang berasal dari kata Yunani, Philosophia, berarti cinta kebijaksanaan. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasaArab menjadi al-falsafah, sementara orang yang menggeluti bidang ini disebut al-falasifah (para filsuf). Filsafat Islam dalam hal ini adalah sebuah produk dari proses pemikiran yang dihasilkan oleh para sarjana muslim klasik setelah mengalami persinggungan dengan kebudayaan Yunani. Karena, kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani mulai dikenal oleh umat Islam setelah membaca buku-buku pemikir dari Yunani. Orang Islam pertama yang dikenal sebagai filsuf Islam pertama adalah Abu Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi (Wafat sekitar 257 H/ 870 M).[1]

 Uraian tentang transmisi kebudayaan Yunani dalam peradaban Islam ini akan di mulai dengan perkenalan umat Islam akan kebudayaan-kebudayaan besar pra-Islam yang ada di beberapa wilayah kekuasaan umat Islam yang sedang meluas saat itu. Perkenalan yang didasari atas semangat Islam yang menganjurkan untuk mempelajari pengetahuan dari siapa pun berlanjut pada proses penerjemahan besar-besaran selama kurang lebih dua abad, dari awal abad ketujuh hingga akhir abad kedelapan. Proses penerjemahan ini meliputi dari berbagai kebudayaan, khususnya dari Yunani kemudian Persia dan India. Selama kurang dari dua abad ini, yang terjadi adalah sebuah proses penerjemahan yang melibatkan banyak intelektual Kristen Nestorian yang kebetulan mahir dalam beberapa bahasa penting saat itu, Yunani, Suryani dan Arab. Baru setelah banyak buku-buku dari kebudayaan non-Islam diterjemahkan ke dalam bahasaArab, mulailah bermunculan produk-produk pemikiran yang disebut filsafat Islam.

Kelahiran filsafat Islam inilah merupakan babak baru atau pintu gerbang bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam secara besar-besaran, yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangsihnya dalam pembangunan peradaban dunia yang paling maju saat itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Ilmu Sebagai Penegak Peradaban

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu. Dengan ilmu, Islam mampu membangun sebuah peradaban yang menginspirasi munculnya peradaban baru lainnya.

Banyak ayat al-Quran dan al-Sunnah yang menganjurkan kaum Muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Al-Quran demikian menghormati kedudukan ilmu dengan penghormatan yang tidak ditemukan bandingannya dalam kitab-kitab suci yang lain. Di dalam al-Qur\’an terdapat beratus-ratus ayat yang berbicara tentang ilmu dan pengetahuan dan menyebut kemuliaan dan ketinggian derajat ilmu. Sebagaimana firman Allah SWT: Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. (QS. Al Mujaadilah : 11).

Dalam surat lain orang-orang berilmu dipandang positif oleh Al Qur\’an dengan diumpamakan sebagai orang-orang melek di antara orang-orang buta. Allah berfirman : Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melek? Apakah kamu tidak berfikir? (QS. Al An-Aam : 50). Ayat lain menanyakan : Apakah (kamu kira) sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak berilmu? Jawabannya tentu saja tidak.

Di dalam Al Qur\’an, seperti yang terlihat pada studi yang dilakukan Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo (Ulumul Quran No. 4/1990), kata i\’lm disebut sebanyak 105 kali dan sebanyak 744 kali dengan kata jadiannya. Kata ilm disebut dalam bentuk dan frekuensi sebagai berikut: alima (35 kali), ya\’lamu (215), I\’lam (31), yu\’lamu (1), ilm (105). alim (18), ma\’lum (13), alimin (73), alam (3),a\’lam (49), alim atau ulama (163), allam (4), allama (12), yu\’limu (16), ulima (3), mu\’allam (1), atau ta\’allam (2).

Melihat ayat-ayat yang disebutkan diatas menunjukkan bahwa al-Quran merupakan faktor pendorong bagi Muslimin untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional, baik ilmu kealaman maupun matematika. Dalam banyak ayat, al-Quran mengajak untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit, bintang-bintang yang bercahaya, susunannya yang menakjubkan dan peredaraannya yang mapan. Ia juga mengajak manusia untuk memikirkan penciptaan bumi, laut, gunung-gunung, lemah, keajaiban-keajaiban yang terdapat di dalam perut bumi, pergantian malam dan siang dam musim. Ia mengajak untuk memikirkan keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, sistim perkambangannya dan keadaan-keadaan lingkungannya. Ia mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia-rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah.

Al-Quran juga mengajak untuk mengadakan perjalanan di dunia, memikirkan peninggalan orang-orang terdahulu serta meneliti keadaan bangsa-bangsa, kelompok-kelompok manusia, kisah-kisah, sejarah dan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari mereka dengan mengambil alih dan menerjemahkan dari bahasa-bahasa lain, pada permulaannnya.

Itulah sejumlah fakta tentang betapa al-Quran telah mendorong kemajuan kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun demikian, ada yang harus kita renungkan, bahwa sekarang ini telah terjadi ironi, ketika al-Quran begitu kuat mendorong untuk memperdalam ilmu pengetahuan, namun kita kaum Muslimin telah tertinggal di bidang ini.

Padahal dalam catatan sejarah, para ilmuwan Muslim telah mampu membawa Islam pada peradaban maju selama 14 abad (abad ke-7 hingga abad ke-14 M). Di antara ilmuwan Muslim itu adalah : al-Khawarizmi, pendiri aljabar dan penemu angka nol yang meretas jalan ke arah apa yang kita kenal sekarang sebagai matematika modern. Al-Razi, penulis ensiklopedia kedokteran, Continens, yang dicetak ulang sebanyak 40 kali, al-Biruni, ilmuwan fisikan dan matematika, Ibnu Haytam, seorang matematikawan, astronom dan penulis karya-karya optik, Ibnu Sina, seorang dokter, fisikawan, filosof dan teolog, Ibnu Khaldun, seorang ahli hukum, negarawan dan juga dikenal sebagai bapak sosiologi dan sejarah, Ibnu Rusyd, seorang pemikir dan filosof, al Kindi, al Farabi, Omar Khayam, Al Ghazali dan sebagainya.

Para ilmuwan Muslim ini berhasil membangun sebuah peradaban yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, filsafat dan kesenian. Tiga pilar peradaban ini ternyata mampu membawa Islam pada zaman keemasan. Menurut Toby E. Huff dalam bukunya yang berjudul the Rise of Early Modern Science, dari abad ke delapan hingga akhir abad keempat belas, ilmu pengetahuan Arab (Islam) adalah sain yang paling maju di dunia yang jauh melampaui Barat dan Cina.

B. Pendorong Majunya Peradaban

Menurut Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya yang berjudul Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam setidaknya ada tiga faktor pendorong kemajuan ilmu sehingga lahir kejayaan Islam.

Pertama, faktor dorongan agama dimana Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dikemukakan di atas. Kedua, faktor apresiasi masyarakat (penghargaan yang tinggi). Selain kewajiban agama dan janji pahala (surga) yang akan diberikan Tuhan kepada penuntut ilmu, faktor penting lainnya yang bertanggung jawab atas berkembangnya ilmu pengetahuan (dan tradisi ilmiah yang diembannya) adalah apresiasi (penghargaan yang tinggi) masyarakat terhadap ilmu dan juga ilmuwan-ilmuwannya.

Sejarah mencatat betapa ilmuwan-ilmuwan (ulama) sangat dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari kelas bawah, menengah dan atas. Kehadiran seorang ilmuwan (ulama) selalu membangkitkan gairah masyarakat untuk menemui dan mendengarkan pidato-pidatonya.

Selain penghormatan dan penghargaan yang besar terhadap ilmuwan, apresiasi yang tinggi juga diberikan oleh masyarakat, khususnya para penguasa saat itu kepada ilmu itu sendiri. Masyarakat Baghdad, misalnya, sangat gemar untuk menyaksikan debat terbuka yang diselenggarakan di tempat-tempat umum antara para teolog dan filosof. Para penguasa sangat berkenan mengundang ilmuwan untuk datang ke istana dan merasa terhormat dengan kedatangan itu serta meminta mereka untuk menulis berbagai buku dengan memberi imbalan atau honor atau penghargaan yang tinggi kepada sang ilmuwan, baik dalam bentuk finansial maupun promosi jabatan.

Ketiga, patronase (perlindungan, pengayoman, dukungan finansial) para penguasa atas sarana-sarana pendidikanformal dan non formal kegiatan-kegiatan ilmiah, maupun penelitian-penelitian individual para sarjana.

Bentuk perlindungan penguasa itu dapat dirincikan; (1) undangan para penguasa kepada para ilmuwan untuk tinggal di istana. (2) pembangunan sarana pendidikan, seperti akademi, rumah sakit, observatarium, perpustakaan, college (madrasah). (3) pembiayaan/dukungan finansial untuk melakukan riset ilmiah. (4) penyelenggaraan seminar oleh para penguasa. (5) pemberian bea-siswa kepada mereka yang dipandang potensial dalam ilmu pengetahuan.

 

C. Membangun Kembali Pilar Peradaban Bangsa

Perkembangan ilmu pengetahuan bukan dimulai ketika mulai munculnya ilmu filsafat yang telah di adopsi dari masyarakat yunani, akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam telah terjadi, jauh sebelum terjadi adopsi budaya tersebut. Terdapat beberapa peristiwa tentang peletakan pilar-pilar penegak peradaban dalam Islam oleh Nabi Muhammad, diantaranya, yakni :

1. Spirit Bukit Shafa : Afirmasi atas Pandangan Hidup Islam

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan (kepadamu wahai Muhammad) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!”.[3] Inilah perintah Allah s.w.t. yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia, tersembunyi) sekaligus sebagai deklarasi dakwah pada tataran publik (jahriyah).

Rasululllah naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru “ya shabâhah!”. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w. Beliau berkata:”Wahai Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai Bani Ka’ab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa,di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?”. Secara aklamasi mereka menjawab, “Ok, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja.” “Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat.” Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, “celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril ‘alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran rasulNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti  binasa”[4]

Narasi sejarah ini menjelaskan hal yang sangat penting tentang worldview (al-tashawwur al-Islamy; ru’yatul Islam lil wujûd) seorang muslim dan bangsa muslim yang khas. Sebuah titik tolak peradaban universal yang kontra paganisme dan rasialisme etnik, tidak tersekat oleh kekerdilan suku, ras, masyarakat, budaya ataupun batas-batas geografis, sebagaimana universalitas Islam yang difirmankan oleh Allah SWT : “Dan tidalah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta!”.[5] Potret bangsa muslim, tidak boleh tidak, harus sesuai dengan karakteristik dasar Islam itu sendiri; Rabbaniyah (Allah Oriented pada dimensi sumber ajaran dan tujuan); insaniyah-‘alamiyah (universal dan kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis); al-‘adl al-muthlaq (berkeadilan, anti tirani dan kezaliman apa dan siapapun); al-tawâzun bayna al-fard wa al-jamâah (keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial); tsabât wa al-tathawwur (kombinasi serasi antara perkara konservatif dan kemajuan zaman).

 

2. Sirah Nabawiyah : Cermin Membangun Karakter Bangsa

Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.[6] Dengan demikian, karakter bangsa berarti yang membedakan kita dengan bangsa lain pada aspek-aspek tersebut.

Karakter sebuah bangsa terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian mereka terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter bangsa merupakan hasil interaksi  totalitas bangsa tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang dimilikinya. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar bersama. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif bagi alam semesta, rahmatan lil’alamin.

Batasan makna karakter terbaca menginformasikan kepada kita tentang pentingnya bercermin pada sejarah, terlebih sirah nabawiyah. Rekonstruksi dan reaktualisasi pemaknaan sejarah kenabian menjadi cermin penting dalam menata ulang bangunan karakter dan kepribadian bangsa kita yang semakin hari semakin pudar. Dari perspektif ini penulis mengelaborasi karakteristik kebangsaan kita.

Ketika dakwah Rasulullah s.a.w. tak lagi terbendung dengan berbagai strategi perlawanan dan rekayasa opini publik masyarakat Arab masa itu, ditawarkan beberapa pilihan yang menggiurkan kepada Rasulullah .s.a.w.; harta, tahta dan wanita. Bahkan sampai pada opsi kompromi teologis dengan secara bergantian menyembah tuhan masing-masing. Semuanya ditolak!. Beliau dengan tegar menyatakan konsisten menjalankan ajarannya di jalur ‘kultural’ dengan menata ulang visi ketuhanan masyarakat Arab, visi kemanusiaan, visi tentang hidup dan visi tentang alam tercipta yang telah terkontaminasi sedemikian jauh dengan virus-virus paganisme dan rasialisme etnik masyarakat Arab lalu mengisinya dengan tauhid sebagaimana grand design dakwah para Nabi sebelumnya. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai proses al-takhliyah qabla al-tahliyah; pengosongan diri dari segala hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai luhur Islam sebelum berfesona dengannya.

Di sini kita belajar untuk menjadi bangsa yang kritis (critical society), bukan saja sebagai individu. Kita dituntut secara massif untuk mengkonservasi nilai-nilai fundamental keimanan, keislaman dan keindonesiaan kita di tengah serbuan pasar ideologi kontemporer yang destruktif atas kemanusiaan sejagad. Dalam konteks ini, barangkali, kita perlu melakukan perlawanan bersama atas berbagai varian neo kolonialisme dan imperialisme global  yang menggerogoti organ vital kepribadian masyarakat kita; izzah sebagai bangsa muslim! Inilah inti ajaran tauhid, melawan tirani (thagut) dan reorientasi penghambaan (‘ubudiyah) hanya kepada Allah s.w.t. (tauhid). Visi kehidupan tauhidik ini berlawanan secara diametral dengan paganisme kekinian yang mengeksploitasi kemanusiaan kita. Kita sebut saja visi ini sebagai visi tauhidik.

Visi ini berimplikasi lebih jauh pada potret dan orientasi bangsa muslim yang universal dan  kosmopolitan. Dalam struktur kepribadian bangsa kita, dengan perspektif kesatuan Pencipta dan ciptaan (wihdatul Khaliq wa al-khlaq) dan kesatuan kemanusiaan (wihdat al-basyariyah), manusia tidak lagi dipandang berdasarkan paradigma etnik dan religio-kultural. Tidak pula dipilah berdasarkan sosio-geografisnya. Satu-satunya parameter yang kompatibel dengan semangat tauhid ialah ketaqwaan yang aktual dalam tataran kehidupan  pribadi, sosial serta berimplikasi positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. [7]

Wajah bangsa muslim yang kosmopolitan dan universal ditegakkan atas prinsip-prinsip moral yang menjadi konsensus bersama bagi segenap komunitas yang berada di teritorial Islam. Dalam hal ini, sekali lagi, Rasulullah s.a.w. tidak membeda-bedakan muslim-non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihatlah klausal-klausal yang tertera pada Piagam Madinah (mîtsâq al-Madînah), yang menurut para pakar sejarah dan tata negara merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernik-pernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia. Rasulullah s.a.w. menegaskan kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Keadilan meletakkan manusia sejajar, tanpa memandang status dan jabatan. [8]

Pada tataran relasi antar-manusia dengan ragam keyakinan yang bebeda, Al-Qur’an Al-Karim mengajarkan kita untuk tidak menjadi masyarakat yang kerdil, tidak ekslusif sebagaimana doktrin rasialisme kaum Yahudi “the people of God” (sya’bullâh al-mukhtâr).[9] Bahkan dalam tataran keyakinan sekalipun, Islam tak pernah menerapkan ‘paksaan’ dan intimidasi teologis sebagaimana fakta sejarah abad Pertengahan dalam kehidupan Gereja. Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah s.w.t. [10]

Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas  masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Ini pula yang berimplikasi pada kohesivitas antar kelompok dan individu, terlebih sesama kaum beriman sebagaimana dicontohkan dalam catatan mu’âkhât (persaudaraan) Muhajirin dan Anshar.

Kohesivitas individu dan sosial generasi awal (salaf) di masa Rasulullah s.a.w yang sangat kokoh karena frekuensi  dan basis spiritual yang sama di antara mereka. Modal spiritual (quwwah rûhiyah) ini pula yang dicatat oleh sejarah dalam membangun awal peradaban Islam yang agung. Peradaban dengan visi Uluhiyah yang sangat kental. Pembangunan dua masjid; Quba’ dan Nabawi menjadi saksi sejarah kokohnya basis spiritual tersebut. [11]

Terakhir, bangsa  muslim adalah bangsa apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dengan penalaran yang lain, dapat dijelaskan bahwa ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah s.a.w. mengevakuasi manusia dari keterpurukan “fase mitologi” menuju fase bermartabat yang berbasis ilmu dan pengetahuan. [12]Dari perspektif ini kita memahami dengan baik bahwa arpresiasi dan pujian sebagai “Ulul Albab”[13] dapat diraih tatkala segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayat-ayat atau tanda keagungan Allah s.w.t., bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah. Wahyu pertama “Iqra’” memberikan landasan kokoh terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam sejarah panjang peradaban Islam kemudian. Cermati pula kisah ahlu shuffah yang setia menimba ilmu setiap saat kepada Rasulullah s.a.w. Di sini kita memahami bangsa muslim ialah bangsa dengan etos ilmu yang tinggi.

 

3. Peran Intelektual Muda Muslim

 

Islam memandang pemuda sebagai penopang pilar utama transformasi sebuah bangsa. Lihatlah Rasulullah s.a.w. Pada usia 15-20 tahun beliau telah terlibat berbagai  peristiwa militer  dan memainkan peran diplomatik penyelesaian sengketa masyarakat Arab. Bahkan pada usia yang sangat dini (12 tahun), beliau melakukan perjalanan bisnis ke Syam (Syria). Ini pengalaman perjalananan internasional. Beliau bertemu dengan Pendeta Buhaira yang meramalkan kenabiannya, sesuai dengan apa yang tertera di Kitab Sucinya. Sinopsis kehidupan seperti ini telah membentuk konsep diri dan peran strategis beliau dalam narasi panjang sejarah peradaban Islam.

Al-Qur’an juga bercerita kepada kita tentang Ashab al-Kahfi yang tangguh.”Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk”[14].

Al-Qur’anpun berkisah tentang pemuda Ibrahim a.s. yang bermental baja dalam membasmi berhala, tapi juga sosok yang sangat santun dalam berdialog dengan kaumnya. Beliau penjadi pilar utama perubahan kaumnya, bahkan menjadi sentral perhatian kaumnya,”Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim”.[15] Demikian pula tentang sosok Nabiyaullah Ismail a.s. dan nabiyullah Yusuf a.s. Mereka adalah pemuda-pemuda tangguh dan tokoh transformasi umatnya.

Dengan demikian sesungguhnya kita memiliki pijakan historis berdasarkan penuturan Al-Qur’an yang terbuktikan, bukan sekedar apologi teologis yang romantis. Maka, visi tauhidik yang telah penulis sampaikan pada bagian terdahulu hendaklah dapat mentransformasikan setiap individu di antara kita untuk hadir di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kontribusi terbaik serta karakter mulia yang membebaskan kita dari segala kungkungan dan tirani sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan tirani intelektual itu sendiri. Semua itu dapat kita rumuskan pada atribut intelektual muda muslim berikut ini : Pertama, memahami dan berpegang teguh pada ajaran tauhid serta komitmen yang utuh kepada Allah s.w.t. (Islamic world-view, a-tashawwur al-Islamy). Kedua, menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah s.w.t. Dalam konteks masyarakat manusia, penolakannya itu berarti emansipasi dan restorasi kebebasan esensialnya dari seluruh belenggu buatan manusia, supaya komitmennya pada Allah menjadi utuh dan kukuh. Ketiga, ia bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, adat-istiadatnya, tradisi dan paham  hidupnya. Bila dalam penilaiannya ternyata terdapat unsur-unsur syirik dalam arti luas, maka ia selalu bersedia untuk berubah dan mengubah hal-hal itu agar sesuai dengan pesan-pesan ilahi. Manusia-tauhid adalah progresif karena ia tidak pernah menolak setiap perubahan yang positif. Ia berinteraksi dengan berbagai produk budaya dan peradaban asing yang antagonis dengan Islam.Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Kelima, visi kehidupan yang jelas tentang kehidupan yang akan dibangun bersama manusia lainnya; hablun minallah dan hablun minannas (keseimbangan dimensi vertikal dan horisontal).Keenam, seorang intelektual muda muslim harus terlibat aktif dalam transformasi masyarakat, tidak menjadi tawanan menara gading yang jauh dari penderitaan umatnya.[16]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu. Dengan ilmu, Islam mampu membangun sebuah peradaban yang menginspirasi munculnya peradaban baru lainnya. Hal tersebut didukung oleh kitab suci agama Islam, yakni Al Qur’an yang di dalamnya berisi rahasia-rahasia alam yang diperlukan manusia dalam kehidupannya yang secara terus menerus mengajak manusia untuk merenung, berpikir dan belajar dari tiap-tiap kejadian di alam semesta.

Dalam Al Qur’an perintah mencari ilmu berkali-kali disebutkan, bahkan Allah memberikan derajat yang tinggi bagi orang yang berilmu. Maka tidaklah salah apabila peradaban Islam merupakan tonggak majunya peradaban dunia, hal tersebut dibuktikan oleh tokoh ilmuwan muslim yang namanya hingga kini dikenang dan manjadi bapak dari masing-masing keilmuwan yang mereka kuasai dan perjanjian madinah yang diakui para ahli sejarah sebagai konstitusi tertulis pertama didunia yang mengakui persamaan hak.

Para ilmuwan Muslim tersebut berhasil membangun sebuah peradaban yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, filsafat dan kesenian yang mereka kaji dari Al Qur’an. Tiga pilar peradaban ini ternyata mampu membawa Islam pada zaman keemasan. Maka begitu besarnya peran ilmu pegetahuan dalam membentuk peradaban dapat dibuktikan secara nyata dalam Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.hupelita.com/baca.php?id=61066

 

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/agama/kebudayaan-yunani-dalam-peradaban-islam

 

http://fathurkamal.staff.umy.ac.id/?p=21

 

[3] QS. Al-Hijr [15] : 94

 

[4] HR Bukhari-Muslim

 

[5] QS Al-Qalam [68] : 52

 

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet ke-4, hal. 445

 

[7] Al-Hujurat : 13

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

AlI ‘Imran : 110

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

 

[8] HR Bukhari Muslim

 

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ, لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

 

يا أيها الناس ! إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ، ألا لا فضل لعربي على عجمي ولا عجمي على عربي و لا أحمر على أسود و لا أسود على أحمر إلا بالتقوى ( إن أكرمكم عند الله أتقاكم )، ألا هل بلغت ؟ قالوا : بلى يا رسول الله ! قال :فيبلغ الشاهد الغائب (رواه البيهقى وصححه الألباني)          

 

[9] Q.S. Al-Mumtahanah : 8-9

 

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

[10] Q.S. Al-Baqarah : 256

 

لَاإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

Lihat pula Q.S. Al-An’am : 108

 

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

 

[11] Q.S. Al-Taubah : 108-109

 

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ. أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

 

[12] Perhatikan respon Rasulullah s.a.w ketika mendapat informasi tentang sikap sebagian sahabat tentang gerhana yang terjadi (HR Bukhari-Muslim) :

 

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا.”وفى رواية : فَاذْكُرُوا اللَّه

 

[13] Lihat Q.S. Alu Imran : 90-91

 

[14] Q.S. Al-Khf : 13

 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

 

[15] Q.S. Al-Anbiya’ : 60 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

 

[16] Q.S. Al-Tawbah : 128

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم

 

 

Penjelasan Materi PAI SMA

MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SMA KELAS X SEMESTER 1

 

Disampaikan untuk sebagai bahan diskusi pada Mata Kuliah Kurikulum Pengembangan PAI

Dosen: A.S.Mahfud, M.PdI

 

  1. Pendahuluan

Pendidikan adalah salah satu penentu keberhasilan seseorang. Bagaimana dia berkata, bersikap dan bermasyarakat menunjukkan tingkat sosial dan pendidikan pribadi tersebut. Melihat pentingnya sebuah arti dari pendidikan perlu kiranya untuk kita umat muslim yang bertugas untuk melestarikan ajaran Islam di muka bumi ini mengerti segala sesuatu tentang pendidikan dengan tujuan menjaga tegaknya dakwah Islam.

Pendidikan meliputi banyak aspek dan materi yang dikaji, salah satunya adalah materi Pendidikan Agama Islam untuk tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) yang bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap kurikulum, akan tetapi lebih pada pemberian dasar pengetahuan agama yang benar sebagai tuntunan hidup manusia.

Usia labil yang dimiliki para remaja usia SMA perlu pengawalan ketat dalam perkembangannya. Tuntutan jaman yang semakin tinggi terkadang membuat para remaja bingung dan kehilangan identitas diri, bangsa dan agamanya. Disinilah arti penting materi PAI, dengan keterbatasan waktu pertemuan dalam memberikan materi guru dipaksa untuk dapat memberikan materi sekaligus teladan bagi siswa-siswi SMA yang rentan pada pengaruh negative lingkungan.

Berikut ini akan kami ulas beberapa materi SMA kelas X semester 1

 

  1. Pembahasan

Berikut ini kami sajikan Materi PAI untuk tingkat SMA kelas 1 Semester 1 yang terbagi menjadi 3 pokok bahasan secara garis besar, yaitu :

  1. Al Qur’an

Dalam materi Al-qur’an ini terdapat 2 standart yang harus di capai siswa yakni :

  1. Memahami manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi,

Dalam materi ini dijelaskan beberapa ayat al-qur’an yang menjadikan dasar tugas manusia sebagai khalifah/ pemimpin di atas bumi, diantara ayat tersebut adalah

Al-baqarah ayat 30

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

 

 

Artinya :

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

 

Kandungan Surah al-Baqarah Ayat 30

Berdasarkan terjemah diatas dapat disimpulkan:

  1. Rencana Allah untuk menciptakan khalifah dimuka bumi yang akan diperankan
    oleh manusia
  2. Malaikat menyaksikan kemampuan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, tetapi
    Allah meyakinkannya. Dengan diberi karunia akal manusia dapat
    mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan
  3. Tugas manusia di muka bumi adalah melestarikan dan memanfaatkan segala
    isinya dengan tetap menjaga keseimbangan alamnya.

 

Ayat diatas menyatakan keterkejutan malaikat ketika diberitahu bahwa Allah
SWT. Akan menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi. Mereka bertanya kepada
Allah SWT., mengapa Adam yang akan di angkat menjadi khalifah, padahal Adam
dan keturunanya, adalah makhluk yang berbuat kerusakan dan pertumpahan darah.
Sebaliknya, para malaikat menganggap bahwa dirinya lebih pantas memangku
jabatan tersebut sebab mereka senantiasa memuji dan menyucikan Allah SWT.
Sepanjang hidupnya. Allah SWT. Tidak membenarkan anggapan para malaikat
tersebut. Allah SWT. Melakukan segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan
Hikmah-Nya. Allah SWT. Mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh
para malaikat dan semua makhluk-Nya.

Khalifah adalah seorang yang di jadikan pengganti atau seseorang yang di beri wewenang untuk bertindak atau berbuat sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
yang memberi wewenang. Adapun yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam adalah
kedudukan sebagai wakil Allah SWT. Dibumi. Ia berkewajiban melaksanakan
perintah-perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang
ada padanya. Hal itulah yang memunculkan ungkapan bahwa manusia adalah
khalifahtullah di bumi.

 

Al mu’minun ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Artinya

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

 

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

Artinya

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya :

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

 

Kandungan Surah al-Mu`minun ayat 12-14,  Secara lebih detail, manusia diciptakan dalam beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Sulalatin min tin adalah sari pati tanah yang didapatkan melalui makanan
    yang di komsumsi oleh Manusia, baik berupa hewan maupun tumbuh-tumbuhan
  2. Nutfah adalah sel sperma yang di jadiakan Allah SWT. Dari sari pati tanah.
  3. Fi qurarin makin adalah tempat yang kukuh atau rahim. Sel sperma yang
    dibuat dari sari pati tanah tersebut kemudian di letakan ke dalam rahim
    sehingga terjadi pembuahan.
  4. `Alaqah adalah embrio yang merupakan hasil pembuahan dan berwujud gumpalan
    darah. Embrio ini terbentuk pada hari kesembilan sampai hari kesebelas
    setelah pebuahan.
  5. Mudgah adalah segumpal daging yang berbentuk dari `alaqah.
  6. ‘Izam adalah mudgah yangtelah di berikan tulang atau kerangka oleh Allah
    SWT.
  7. Khalqan akhara adalah makhluk dalam bentuk yang lain,atau manusia yang baru.

 

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia di ciptakan dari sari pati ( sulalah )
dari tanah ( tin ). Allah SWT. Menciptakan manusia dari tanah. Makna ayat
tersebut adalah bahwa Allah SWT. Menjadikan manusia dari sari pati yang
berasal dari tanah. Seorang bapak dan seorang ibu mengomsumsi makanan yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Tumbuh-tumbuhan hidup dengan
mengambil unsur-unsur yang terdapat dalam tanah. Binatang ternak lalu memakan
tumbuh-tumbuhan tersebut. Sari pati makanan yang di makan bapak menjadi sel
sperma sedangkan sari pati makanan yang di makan ibu menjadi sel telur. Sel
sperma dan sel telur tersebut bertemu dalam rahim sehingga terjadi pembuahan.
Peristiwa itu merupakan awal dari proses terciptanya manusia.

 

Az-zariyat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Kandungan Surah adz-Zariyat sebagai berikut:

  1. Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah ( beribadah ) kepada-Nya.
    baik beribadah secara langsung ( hablum minallah ) yaitu hubungan kepada
    Allah seperti sholat, berdo`a dan sebagainya yang disebut mahdah, maupun
    beribadah secara tidak langsung ( hablum minannas ) yaitu hubungan kepada
    sesama manusia dalam rangka mencari rida Allah SWT. Yang disebut Ibadah
    gairu mahdah.
  2. Jin diciptakan Allah agar mereka menyembah dan mengabdi hanya kepada Allah
    SWT.

 

Al-Qur`an surat az-Zariyat Ayat 56 tersebut menjelaskan bahwa Allah
SWT. Tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Nya. Jin dan
manusia di jadikan Allah SWT. Untuk tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.
Hal itu di wujudkan dengan menaati semua peraturan Allah SWT. Serta menerima
segala takdir-Nya. Ayat tersebut juga menguatkan perintah kepada manusia untuk
selalu berzikir dan beribadah kepada Allah SWT.

An nahl 78

 

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Artinya :

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

 

Kandungan Ayat Berdasarkan terjemahan surat diatas dapat disimpulkan kandungannya; bahwa Allah membekali manusia 3 (tiga) hal :

  1. Pendengaran
  2. Penglihatan
  3. Hati Nurani

 

Al-Qur`an surah an-Nahl ayat 78 tersebut menegaskan bahwa kita dilahirkan ke
dunia ini dalam keadaan tidak mengerti apa-apa. Kita lahir dalam keadaan lemah
dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan, kita membutuhkan bantuan orang lain
sesaat setelah dilahirkan, seperti bidan, perawat dan orang tua kita. Itulah
sesungguhnya pada awal kehidupan kita. Dengan menyadari hal itu, kita akan
terjauh dari sifat sombong dan takabur.

Ayat tersebut juga menegaskan bahwa Allah membekali manusia dengan tiga hal,
yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Dengan tiga hal tersebut,
manusia akan menjadi makhluk yang sempurna agar mampu menjalankan tugasnya
sebagai khalifah di muka bumi ini.

Dalam ayat itu, pendengaran di sebutkan terlebih dahulu daripada penglihatan.
Menurut para ulama, hal itu menyiratkan makna bahwa pendengaran lebih di
muliakan dari pada penglihatan. Para ulama memberikan dua alasan, mengenai hal
itu alasan pertama bahwa telinga merupakan alat untuk mendengarkan seruan di
dunia dan di akhirat. Alasan kedua adalah bahwa telinga bayi lebih dulu ber
fungsi dari pada matanya.

Dewasa ini, hal itu mendapatkan penjelasan melalui penelitian ilmiah di bidang
kedokteran. Dengan menggunakan teknologi yang telah maju, anatomi tubuh
manusia dapat diketahui dengan jelas hingga gambaran yang paling detail.
Dengan penggunaan teknologi tersebut dapat diketahui bahwa otak terdiri atas
beberapa kepingan, yaitu kepingan otak bagian depan, dahi, pelipis dan
belakang. Kepingan-kepingan itu menjadi pusat berbagai macam indra manusia.

Setelah mempelajari pusat-pusat pendengaran dan penglihatan, para Ilmuan
menemukan bahwa pusat pendengaran terletak pada kepingan pelipis yang
berhadapan dengan telinga, sedangkan pusat penglihatan terletak pada bagian
belakang otak. Dengan demikian, dilakukanya peyebutan pendengaran dari pada
penglihatan bersesuaian dengan anatomi pusat-pusat indra pada otak secara
tepat.

Fakta yang lain di tunjukan oleh ilmu imbriologin. Dalam ilmu imbriologi, di
jelaskan bahwa alat pendengaran telah berkembang saat manusia dalam bentuk
janin. Perkembangan ini jauh lebih awal sebelum perkembanganya alat
penglihatan manusia. Perkembangan telinga pada janin akan sempurna pada bulan
kelima, sedangkan mata baru akan mencapai kesempurnaan setelah kelahiran. Oleh
karena itu, janin sudah mampu mendengarkan bebagai suara,tetapi belum mampu
melihat berbagai cahaya dan gambar.

 

  1. Keikhlasan dalam beribadah
    1. Surah al-An`am ayat 162-163

 

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Artinya :

Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Artinya :

tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.

Isi kandungan surah diatas sebagai berikut :

  1. Kepasrahan jiwa dan raga untuk mengharap ridla Allah SWT.
  2. Menghindarkan diri dari kemusyrikan

 

Dalam ayat tersebut, Allah SWT. Memerintahkan Nabi Muhammad saw. Supaya
mengatakan bahwa sholatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya adalah semata-mata
untuk tuhan semesta alam. Dua ayat ini juga mengandung ajaran Allah SWT.
Kepada Nabi Muhammad saw. Yang harus disampaikan kepada umatnya. Ajaran itu
berisi cara hidup seorang muslim didunia ini bahwa semua amal ibadah harus
dilaksanakan dengan tekun, ikhlas, tanpa pamrih, dan sepenuh hati karena Allah
SWT.

Seorang muslim harus meyakini kodrat dan iradat Allah SWT. Hal itu disebabkan
Allah SWT. Adalah dzat yang menentukan hidup dan mati seseorang. Oleh karena
itu, seorang muslim tidak takut mati dalam berjihad dijalan Allah SWT.
Seorang muslim juga tidak boleh takut kehilangan kedudukan atau jabatan dalam
menyampaikan dakwah Islamiyah.

2. Surat al-Bayyinah Ayat 5

 

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

 

Artinya: “Padahal mereka diperintah menyembah Allah dengan ikhlas
mentaati-Nya, semata-mata karena ( menjalankan ) agama, dan juga agar
melakukan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus ( benar )”. (Q.S. al-Bayyinah (98): 5)

Isi Surah kandungan diatas sebagai berikut :

  1. Manusia di ciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah.
  2. Memurnikan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan
    menjauhkan dari syirik
  3. Sebagai tolok ukur ketaatan kepada Allah SWT.adalah menjalankan sholat dan
    memberikan sebagian hartanya yang di anugrahkan oleh Allah SWT.

 

Dalam ayat tersebut,Allah SWT. Menegakan bahwa manusia tidak di perintah,
kecuali untuk beribadah kepada Allah. SWT. Perintah yang di tujukan kepada
manusia adalah untuk memberikan jalan kepada manusia dalam mencapai
kebahagiaan dunia dan akherat. Untuk mencapai hal itu, manusia harus berbakti
kepada Allah SWT.dengan melaksanakan ibadah secara iklas lahir dan batin. Hal
itu dilakukan dengan cara menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada
Allah SWT.

Ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata-mata mengharap
ridla Allah SWT. Orang yang mempunyai sifat ikhlas disebut Mukhlis.
Apabila dalam ibadah ada motif selain karena Allah SWT. Semata, ibadah
tersebut akan di warnai oleh sikap ria, sum`ah, sombong, angkuh dan ujub.

Beberapa keuntungan sikap ikhlas adalah sebagai berikut.

  1. Ikhlas merupakan syarat mutlak di terima atau tidaknya suatu ibadah.
  2. Orang yang ikhlas akan menjalankan ibadah dengan semangat, baik dilihat
    orang maupun tidak. Hal ini disebabkan ia beribadah bukan mengharapkan
    pujian dan sanjungan orang lain.
  3. Orang yang ikhlas senantiasa sabar,tabah, teguh pendirian dan tidak kecil
    hati. Ia akan tetap melakukan walaupun banyak orang yang mencemooh dan
    mencelanya.
  4. Orang yang ikhlas tidak akan sombong pada saat mendapat pujian dan
    sanjuangan dari orang lain.
  5. keiklasan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati serta menjaukan
    diri dari godaan iblis. Iblis tidak akan mampu menggoda dan menyesatkan
    orang yang ikhlas.

 

  1. Aqidah

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Nabi saw. bersabda: Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan Dia menyukai yang ganjil. (Shahih Muslim No.4835)

Berdasarkan hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa jaminan surge telah diberikan Allah kepada semua muslim yang mampu menghafalkan asmaul husna (nama-nama mulia) milik Allah. Berikut ini beberapa asmaul husna :

  1. Ar-Rahman (Maha Pengasih)

Allah selalu mengasihi semua makhluk yang diciptakannya dimanapun dan bagaimanapun keadaannya. Dengan meneladani sifat ini manusia akan bisa mengasihi tanpa memandang status, rupa dan asalnya.

  1. Ar-Rahim (Maha Penyayang)
  2. Al.Malik (Maha Raja Diraja)
  3. Al.Quddus
  4. Al.Salam
  5. Al mukmin
  6. Al Muhaimin
  7. Al.Aziz
  8. Al.Jabbar
  9. Al.Mutakabbir

 

Dari beberapa asmaul husna yang tersebut diatas patut kiranya sebagai umat muslim kita meniru sifat-sifat Allah tersebut, dengan meneladani Ar-rahman kita akan dapat selalu mengasihi kepada semua makhluk Allah baik berupa hewan dan Tumbuhan, tidak ada lagi hutan gundul atau perburuan liar yang manfaatnya akan kembali pada kita sendiri.

Dengan sifat ar-rahim kita akan hidup berdampingan saling menyayangi, tidak akan ada lagi teroris atau tawuran. Dengan memaknai sifat Allah yang Al-mutakabbir tidak akan aka nada sebenih sawi kesombongan dalam diri kita, karena kita menyadari dengan penuh bahwa Allah yang memiliki semuanya sedangkan kita hanya ciptaan-Nya dan akan sangat konyol apabila kita menyombongkan kemiskinan dan kebodohan kita didepan Allah.

Dengan menyadari sifat Al-Malik milik-Nya kita malu untuk mengatakan bahwa kita punya pangkat dan memiliki semuanya, sehingga kita akan selalu berbagi dengan yang lainnya. Dengan mengetahui sifat Allah Al-Aziz maha agung kita tidak akan meminta dielu-elukan atau dipuji ketika mendapat prestasi, tapi kita akan semakin bersyukur kepada-Nya.

 

  1. Akhlak

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)

 

Husnuzhan dalam pengertian singkatnya adalah berbaik sangka kepada orang lain. Sifat ini bisa dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. Husnuzhan kepada Allah

Husnuzhan kepada Allah artinya berbaik sangka terhadap semua ketentuan yang telah digariskan Allah, dengan mensyukuri semua nikmat dan musibahnya dengan keyakinan bahwa Allah memiliki rencana lebih indah untuk kita.

Sikap yang paling tepat dalam hal ini adalah dengan selalu menghitung nikmat yang kita terima dari Allah, sehingga kita tidak perlu menghitung musibah dan cobaan dari allah, karena nikmat Allah pasti lebih banyak daripada cobaan yang diberikan. Dengan melakukan hal itu secara otomatis rasa syukur kita akan bertambah.

 

  1. Husnuzhan kepada diri sendiri

Manusia adalah tempat salah dan lupa, dan tidak ada manusia yang sempurna adalah ungkapan yang benar menggambarkan kelemahan manusia. Meskipun demikian, kita tidak boleh hanya befokus kepada kekurangan dan kelemahan kita sebagai manusia, karena dengan berfokus pada kelemahan tersebut membuat kita lemah dan lupa bersyukur atas nikmatNya.

Dengan kita bersu’uzhon pada diri kita sendiri dengan selalu focus pada kelemahan kita, maka kita secara sengaja berprasangka buruk pula kepada Allah sebagai pencipta kita. Dengan kita berpikir positif pada diri sendiri, kita akan menanamkan keyakinan yang baik, dengan keyakinan yang baik itu akan muncul tindakan-tindakan yang baik pula.

  1. Husnuzhan kepada sesama manusia

Islam telah mengatur hubungan sosial dengan indahnya yakni dengan anjuran untuk menjaga tali persaudaraan (silaturahmi). Pentingnya silaturahmi digambarkan dalam hadits berikut

 

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, bangkitlah rahim (hubungan kekeluargaan) berkata: Ini adalah tempat bagi orang berlindung (kepada-Mu) dengan tidak memutuskan tali silaturahmi. Allah menjawab: Ya. Apakah kamu senang kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu? Ia berkata: Tentu saja. Allah berfirman: Itulah milikmu. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci. (Shahih Muslim No.4634)

Berdasarkan hadits yang menempatkan pentingnya hubungan sosial (silaturahim) tersebut, salah satu cara yang diperlukan adalah dengan tidak mencurigai orang lain atau berprasangka buruk pada orang lain. Karena dengan prasangka jelek akan membuat kita menuduh orang lain tanpa ada bukti melainkan hanya kecurigaan-kecurigaan yang berasal dari prasangka jelek.

Secara sederhana dapat dikatakan kita harus menjaga silaturahmi dengan orang lain yang salah satu caranya adalah dengan selalu berpikir positif terhadap orang lain, meskipun terkadang hati harus dipaksa untuk bisa melakukannya, karena dengan berpikir positif kita akan merasa lebih senang menjalani hidup. Namun berhusnudzon atau berpikir positif bukan berarti pula tanpa kewaspadaan.

  1. Fiqih
    1. Pengertian, kedudukan dan fungsi Al-Qur’an, Al-hadits dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam
      1. Al Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang merupakan mu’jizat dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk agama Islam, dan apabila dibaca akan menjadi ibadah kepada Allah.

Al-Qur’an menjadi dasar Hukum dalam agama Islam bersumber dari firman Allah dal Q.S.Az-zukhruf : 43

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: “maka berpegangteguhlah kepada apa yang diwahyukan kepadamu”.

Adapun dasar al-qur’an dalam membuat Hukum ada 2, yakni :

  1. Tidak memberatkan

Seperti hukum boleh tidak berpuasa bagi orang yang bepergian, atau boleh bertayammum sebagai ganti wudhu dan boleh menjama’ serta mengqashar sholat.

  1. Berangsur-angsur

Seperti hukum minum minuman keras, pada awalnya hanya disebutkan bahwa dosanya minum khamr lebih berat dari pada manfaatnya (Q.S. Al-baqarah 219) kemudian datang wahyu selanjutnya yang menyatakan bahwa khamr haram sesaat sebelum sholat dan bekasnya harus hilang sebelum shalat (Q.S. AN-Nisa 43) dan disempurnakan dengan wahyu yang berupa larangan keras mendekati khamr dalam Q.S.Al-Maidah ayat 90.

 

  1. Al-Hadits/ Sunnah

Adalah semua perkatan,perbuatan dan keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat sahabat dan ditetapkan nabi, tidak ditegurnya sebagai bukti bahwaperbuatan itu tidak terlarang.

Sunnah ini terbagi menjadi tiga, yaitu : Sunnah Qauliyah (sabda-sabda nabi), Sunnah Fi’liyah (perbuatan nabi) dan Sunnah taqririyah (diamnya rasul atas ucapan atau perbuatan sahabat). Fungsi sunnah menjadi 2, yakni :

  1. Menjelaskan ayat al-qur’an

Misalnya : perintah shalat dan zakat yang dalam al-qur’an masih berupa perintah mengerjakan dan mengeluarkan, sedangkan cara pelaksanaannya tidak disebut. Maka untuk member keterangan tentang pelaksanaannya itu diperlukan penjelasan dari Rasulullah.

  1. Berdiri sendiri didalam menentukan beberapa hukum

Misalnya tentang ibadah-ibadah sunnah yang sering dilakukan nabi namun tidak ada di dalam al-qur’an.

 

  1. Al Ijtihad

Ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menentukan Hukum syara’ dengan jalan memetik/ mengeluarkan dari Kitab dan Sunnah. Syarat-syarat berijtihad :a) mengetahui isi Al qur’an dan hadits yang bersangkutan dengan Hukum tersebut, 2) menguasai bahasa arab beserta alat-alat pendukungnya, 3) menguasai ilmu ushul fiqh dan kaidah-kaidah fiqih seluas-luasnya, 4) mengetahui nasikh mansukh al-qur’an dan hadits, 5) menguasai soal ijma dan pendapat yang bertentangan dengan ijma’ tersebut, 6) mampu membedakan hadits mutawatir, shahih, hasan, dhaif, maqbul dan mardud, 7) menguasai rahasia-rahasia tasri’.

Adapun permasalahan yang diperbolehkan untuk diijtihadkan adalah Hukum-hukum syara’ yang tidak mempunyai dalil qath’I dan bukan terhadap Hukum akal dan permasalahan yang berhubungan dengan ilmu kalam.

 

  1. Pengertian, kedudukan dan fungsi hukum taklifi dalam hukum Islam

Hukum taklifi adalah khitbah Allah atau sabda rasulullah yang mengandung tuntutan, baik perintah maupun larangan. Hukum taklifi ada 5, yaitu :

  1. Ijab (tuntutan yang pasti atau berhukum wajib)
  2. Nadab (Anjuran atau berhukum sunnah)
  3. Tahrim (berupa larangan yang harus dijauhi atau mengharamkan)
  4. Karohah (larangan yang tidak mesti dijauhi atau berhukum makruh)
  5. Ibahah (membolehkan sesuatu untuk dikerjakan atau ditinggalkan dan berhukum mubah)

 

Dalam Hukum Islam Hukum taklifi adalah Hukum yang pasti dan berlaku untuk semua karena dilihat dari sumber hukumnya merupakan 2 sumber Hukum terkuat yakni Al-qur’an berupa khitbah Allah dan Sunnah atau Hadits berupa sabda rasulullah.

 

  1. Penerapan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari

Hukum taklifi dalam penerapannya masih ambigu atau melihat latar belakang dari personal atau individunya, karena Hukum ini tidak terlihat secara nyata, maka tidak jarang manusia menyepelekannya, contohnya minum khamr yang jelas-jelas diharamkan masih banyak yang melakukannya.

Hal tersebut terjadi karena latar belakang keagamaan yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat masih minim, berbeda apabila kita berbicara Hukum taklifi dengan orang-orang yang latar belakang agamanya kuat, mereka akan lebih memilih melanggar adat ciptaan manusia daripada melanggar Hukum yang telah ditetapkan-Nya.

Pemerintah dalam hal penegakan Hukum taklifi pun tidak bisa berbuat banyak, karena Negara kita bukan Negara agama, akan tetapi Negara pancasila yang mentolerir keberadaan agama lainnya. Pada akhirnya kita sendiri yang harus mempu menegakkan Hukum taklifi dalam pribadi, keluarga dan masyarakat kita sendiri.

 

  1. Tarikh dan kebudayaan Islam
  2. Da’wah Nabi Muhammad periode Makkah

Makkah dipilih nabi sebagai titik awal da’wahnya karena Makkah merupakan tempat kelahiran dan pertumbuhannya. Pada awalnya da’wah nabi dilakukan secara sirri (sembunyi-sembunyi) kuran lebih selama 3 tahun, hal itu dilakukan nabi karena kedudukannya yang masih lemah di masyarakat dan ajaran yang beliau ajarkan sangat bertolak belakang dengan ajaran yang diyakini masyarakat umumnya.

Lapisan pertama yang beliau ajak tentu keluarga dan kerabat dekatnya yang menunjukkan kebaikan pada diri mereka, perjuangan Rasulullah idak sia-sia. Hari pertama berda’wah beliau langsung mendapat kepercayaan dari beberapa orang yang kemudian dikenal dengan assabiqunal awwalun (golongan orang yang pertama masuk Islam), meliputi istrinya Siti Khadijah, Budaknya Zaid bin Haritsah, sepupunya yang masih belia Ali bin Abi thalib dan sahabatnya Abu bakar.

Abu bakar bukan hanya menjadi assabiqunal awwalun saja, akan tetapilangsung mengikuti Rasulullah untuk berd’wah dan salah satu hasinya adalah masuk Islamnya Usman Bin Affan.

Pada masa ini wahyu yang diurunkan Allah berupa wahyu yang pendek-pendek, namun menuntut kebersihan hati dari kooran duniawi, sangat sesuai dengan masa itu yang membutuhkan kelembutan hati dan jiwa. selain itu, wahyu yang diturunkan juga lebih banyak menggambarkan surga dan neraka, sehingga seakan-akan tergambar dengan jelas hal-hal yang membuat mereka merindukan surga dan takut neraka.

Ritual ibadah yang mereka lakukan adalah sholat, namun bukan sholat yang 5 waktu, mereka melakukan sholat padapagi dan sore hari sesuai ketetntuan dari Q.S.Al-Mukmin 55

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ

Artinya :

Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

 

Hal itupun masih dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, namun lambat laun verita itu sampai juga pada orang-orang Quraisy.

Pada awalnya mereka tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah, karena mereka berpendapat apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah untuk meramaikan kegiatan keagamaan. Namun dengan semakin kuat dan luasnya pengaruh Rasulullah di masyarakat, maka orang-orang Quraisy mulai memperhatikan semua yang dilakukan Rasulullah.

 

  1. Strategi da’wah Rasulullah SAW periode Makkah

Pada periode Makkah ini, Rasulullah melakukan strategi da’wah dengan memanfaatkan hubungan kerabat dan saudara dan semuanya dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi sesuai perintah Allah.

Hal tersebut dapat dilihat dari awal da’wah Rasulullah hanya mengundang saudra dekat dengan criteria kebaikan pada diri mereka, kemudian setelah mereka bergabung dengan Rasulullah maka para sahabat yang telah masuk Islam tersebut mengajak sahabat yang lainnya, seperti Abu Bakar mengajak Usman dll.

 

  1. Penutup/ Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa :

  1. Tugas manusia dimuka bumi adalah sebagai khalifah/ pemimpin
  2. Al-Qura’n juga mengajarkan manusia untuk ikhlas dalam melaksanakan ibadah karena Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk beribadah.
  3. Dalam bidang aqidah manusia diharapkan mampu meneladani sifat-sifat allah yang terangkum dalam Asmaul husna
  4. Peranan Prasangka mampu menggerakkan manusia menjadi baik dan buruk baik kepada Allah, diri sendiri maupun kepada sesame manusia. Oleh karena itu Islam telah mengatur bagaimana prasangka itu diatur agar menggerakkan manusia pada hal yang baik.
  5. Fiqih memperkenalkan pada kita berbagai sumber hokum yang ada di Islam, yaitu Al Qur’an, hadits/ sunnah dan Ijtihad, masing-masing dari sumber itu mempunyai dasar yang kuat. Tidak untuk saling menjatuhkan, namun saling memperjelas hokum yang ada.
  6. Hukum yang harus ditegakkan adalah hokum taklifi yaitu hukumyang bersumber dari khitbah Allah dan sabda Rasul-Nya, akan tetapi mengingat Negara kita adalah bukan Negara islam, maka peran serta kita untuk menegakkan hokum taklifi baik pada pribadi, keluarga maupun masyarakat sangat diperlukan.
  7. Da’wah Nabi di Makkah atau yang biasa disebut periode Makkah menggunakan metode sembunyi-sembunyi dan memanfaatkan hubungan keluarga dan kekerabatan untuk penyebarannya, hal tersebut bukan usaha kosong karena dengan metode tersebut muncul golongan yang dikenal dengan assabiqunal awwalun.

 

 

Dilema pendidikan

UJIAN NASINAL PINTU GERBANG PENGANGGURAN

Oleh: Choirin N. S.

April mendatang Dinas Pendidikan mempunyai gawe besar bahkan gawenya kali ini menjadi gawe nasional, tiga minggu lagi ujian nasional tingkat SMU dilaksanakan, disusul satu minggu kemudian ujian nasional tingkat SMP atau SLTP kemudian giliran tingkat SD, berbagai persiapan dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang akan mengikutinya, mulai dari pemberian pelajaran tambahan, trik menghadapi soal hingga trik ngibulin pengawas untuk memberikan contekan. Namun ada satu hal yang selalu dilupakan oleh sekolah-sekolah tersebut yakni bekal untuk dikemudian hari setelah anak didiknya tak lagi menyandang gelar sebagai pelajar.

Fenomena penambahan pengangguran selalu terjadi manakala ujian nasional sukses dilaksanakan, anak didik lulus dengan sempurna, nama sekolah semakin dikenal dengan suksesnya meluluskan anak didiknya, tetapi apa yang terjadi dengan anak didiknya? Mereka bingung apa yang selanjutnya bakal terjadi. Bagai buah simalakama itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan anak didik, bagaimana tidak buah simalakama, jika mereka tidak lulus mereka harus kembali mengulang sekolah selama setahun yang tentu tidak gratis, tetapi jika mereka lulus? Biaya kuliah yang tidak sedikit membuat para orang tua harus berpikir berulang-ulang, jika tidak kuliah tentu bekerja adalah pelarian terakhir bagi mereka.

Bekerja sebagai pelarian terakhir bagi mereka yang tak mempunyai kesempatan merasakan bangku kuliah adalah pelarian paling aman bagi mereka, daripada menjadi pengangguran yang hanya menjadi sampah masyarakat, tetapi sekali lagi benturan kebutuhan harus dihadapi, ijazah SMU dizaman seperti ini tentu dipandang sebelah mata oleh orang-orang, apalagi pengalaman yang dimiliki tidak mendukungnya, kalaupun akhirnya tidak bekerja mungkin akan terbersit bagi mereka yang mempunyai kemampuan lebih untuk menjadi seorang pendidik, tapi sekali lagi penolakan secara tidak langsung terjadi, bukan oleh pihak yang di didik atau pihak yang di tempati tetapi oleh negara yang mengaharuskan seorang pengajar minimal berijazah S1.

Maka jangan salahkan jika setiap tahunnya tingkat pengangguran yang terjadi semakin tinggi, bukan hanya karena belum adanya penyelesaian tentang pengangguran tahun kemarin, tetapi ditambah lagi munculnya pengangguran-pengangguran baru yang di hasilkan oleh sekolah-sekolah yang berhasil meluluskan anak didiknya, sekalipun mereka tidak berhasil lulus dari ujian nasional tersebut, bukankah sekolah persamaan kian menjamur? Jadi tak luluspun akhirnya bukan menjadi sesuatu yang ditakuti. Maka semakin meriah ujian nasional yang dilaksanakan dan semakin sukses sekolah-sekolah meluluskan anak didiknya dan sekolah persamaan semakin punya nama, maka ucapan selamat bekerja keras dan semoga sukses untuk Dinas Tenaga Kerja patut diucapkan.

Jadi kini pilihan terletak di siapa? anak didikkah? Ataukah lembaga sekolah yang harusnya memberikan sedikit pengalaman dan ketrampilan bekerja untuk anak didiknya agar kelak menjadi sesuatu yang berguna bagi si anak didik, baik untuk mencari suatu pekerjaan atau bahkan mampu menciptakan suatu lapangan kerja sendiri yang mampu meresap tenaga kerja produktif lainnya, ataukah semuanya terletak pada Dinas Tenaga Kerja yang jarang kita dengar suaranya dalam pemerintahan? Bahkan kita mendengar ada Dinas Tenaga Kerja ketika akan diadakan tes calon pengawai negeri swasta yang dilaksanakan daerah, ada juga kejadian ketika kita meminta kartu kuning sebagai pengangguran kita ditarik biaya, apa mereka belum bisa mikir kalau pengangguran itu belum punya penghasilan, mengapa ditarik biaya?, maka tak heran jika data dinas dengan kenyataan tidak sama, karena setiap pengangguran tentu berpikir jka mendaftar tentu kena biaya, daripada membayar hanya daftar penganguran mending uangnya dipakai sesuatu yang lebih berguna.

Akhirnya semoga kelulusan dari sekolah bukan membuat mereka mengalihkan gelar pelajar menjadi pengangguran, tetapi kululusan tersebut mampu mengalihkan gelar pelajar menjadi pengusaha.